Posted by: Saidiman Ahmad | February 3, 2010

ACFTA: Nostalgia Pergaulan Internasional

Dimuat oleh Sinar Harapan, 2 Februari 2010

OLEH: SAIDIMAN AHMAD

Sesaat setelah perdagangan China dan Asia Tenggara dibuka bebas (ACF­TA/­ASEAN-China Free Tra­de Area), ba­rang-barang ko­moditas China mulai membanjiri pasar-pasar di Indonesia.Barang-barang itu mulai dari berupa barang elektronik sampai mainan plastik anak-anak. Toko-toko obat di Semarang, misalnya, juga ke­banjiran produk-produk China.

Akan tetapi, meski kebanjiran obat-obat dari China, pada saat yang sama toko-toko obat itu juga kebanjiran konsumen. Masyarakat yang selama ini mendengar ramuan-ramuan obat China kini benar-benar me­nyerbu toko-toko obat yang telah bebas menjual produk-produk tersebut.
Perdagangan bebas dengan China sejatinya bukanlah hal baru bagi masyarakat di Nu­santara. Beratus tahun lalu, pu­lau-pulau di Nusantara adalah wilayah perdagangan bebas dengan pelaku utamanya ada­lah pedagang Nusantara, Chi­na, India, Arab, dan Eropa. Be­berapa negara Eropa yang ke­mudian melakukan pende­katan militer dan mulai memonopoli perdagangan membawa kerugian panjang yang masih dirasakan sampai sekarang.

Pada abad ke-15 dan 16, bebe­ra­pa kerajaan Nusantara se­­perti Gowa-Tallo di Ma­kassar dan kerajaan-kerajaan di Ke­pulauan Maluku memba­ngun kerja sama perdagangan de­ngan China. Pelabuhan-pela­buhan juga dibuka secara be­bas, perahu dari negara mana pun boleh membuang sauh dan berdagang. Sistem perdaga­ngan bebas ini menjadikan ma­syarakat Nusantara memiliki pergaulan internasional. Tak heran jika otoritas-otoritas politik mengeluarkan per­nyataan tentang “kebebasan di laut”. Laut adalah milik Tuhan, dan siapa pun bebas melayarinya untuk mencari kehi­dupan.

Keadaan ini berubah ketika kapal-kapal dagang dan militer Eropa mulai memasuki perairan Nusantara. Mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga ingin menguasai sumber-sumber komoditas perdaga­ngan. VOC, misalnya, menetapkan sejumlah aturan yang meng­ikat dan membatasi per­dagangan bebas. Ketika VOC digantikan oleh pemerintahan Hindia Belanda yang berpusat di Batavia pada tahun 1800, perdagangan bebas benar-benar ditutup dan diganti de­­ngan monopoli. Pelabuhan Ma­kassar, Tuban, dan Malaka yang tadinya adalah pelabuhan in­ternasional yang bebas, saat itu hanya menjadi milik Belanda. Pedagang-pedagang China dilarang membuang sauh di sana.

Masuknya Inggris ke Nu­santara dan menjadikan Singa­pura sebagai pelabuhan internasional yang bebas menjadikan pelabuhan-pelabuhan Nusantara lain yang didominasi oleh Belanda menjadi semakin mati. Pedagang-pedagang China dan India dengan cepat beralih ke Singapura. Dengan kondisi semacam ini, pe­merintah Belanda akhirnya mengeluarkan kebijakan per­dagangan bebas kembali de­ngan membuka pelabuhan-pe­labuhan utama di Nusantara untuk para pedagang asing. Akan tetapi, pembukaan itu masih setengah hati, karena Belanda tetap melakukan pembatasan komoditas perdaga­ngan. Barang-barang tertentu tidak bisa diperjualbelikan de­ngan China. Akibatnya, gairah perdagangan internasional di Nusantara masih dingin. Se­mentara Singapura telah menjadi kota perdagangan yang sangat bergairah.

Kebijakan monopoli ekonomi Belanda adalah buah dari pandangan ekonomi merkantilis. Merkantilisme yang banyak dianut di Eropa saat itu menganggap bahwa kesejahteraan adalah sesuatu yang utuh dan tetap. Ketika sebuah negara mencapai kemakmuran tertentu, maka ada negara atau wilayah lain yang jatuh bangkrut. Jika kekayaan me­ngalir ke satu tempat, tempat lain akan miskin. Keya­kinan semacam ini ditentang oleh pemikir-pemikir ekonomi liberal Inggris. Mereka me­ngatakan bahwa aspek kreati­vitas individu sangat berpe­ngaruh dalam upaya me­mak­mur­kan sebuah masya­rakat. Itulah sebabnya, kebijakan pemerintah Inggris ketika me­nguasai Singapura sangat ber­beda dengan Belanda ketika menguasai Tuban dan Ma­kas­sar. Yang pertama dibuka seluas mungkin menjadi kota perdagangan bebas internasional, sementara yang kedua ditutup dan dimonopoli. Akibatnya bi­sa dirasakan sampai se­ka­rang.

Melihat latar belakang sejarah semacam itu, maka perdagangan bebas dengan China sekarang ini bukanlah sesuatu yang asing. Inisiatif ini adalah bentuk upaya untuk membangkitkan kembali pergaulan internasional yang pernah tumbuh dan ada di Nu­santara. Menurut sejumlah laporan sejarah mutakhir, posisi Nusantara dalam perdagangan dan pergaulan internasional sangat penting.

Melawan Kolonialisme

Pada abad pertengahan, menurut Gevin Manzies, ada dua kekuatan laut yang paling berpengaruh di dunia, yaitu China dan Nusantara. Dua ne­geri inilah yang merajai laut. Dan di masa lalu, ketika pe­sawat terbang belum ditemukan, hanya mereka yang menguasai lautlah yang sebetulnya menguasai pergaulan dunia. Posisi Nusantara yang sangat strategis menjadikan wilayah ini sangat bergairah dalam dunia kelautan.

Hubungan erat dengan China di masa itu tidak hanya mendatangkan gairah ekonomi, melainkan juga berpe­nga­ruh pada budaya masyarakat Nusantara. Islam, yang se­karang dianut oleh mayoritas penduduk Nusantara, diyakini oleh sebagian pengamat di­bawa oleh pedagang-pedagang China, bukan oleh ulama-ulama dari Gujarat, seperti yang selama ini tertulis dalam buku-buku sejarah. Salah satu tokoh Islam China yang sangat terkenal adalah Laksamana Cheng Ho.

Cheng Ho dan pasukannya bahkan mendirikan beberapa kota yang masih berpengaruh sampai sekarang, di antaranya adalah Sam Po Lang (Sema­rang). Kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak, juga disinyalir adalah kerajaan yang dibangun oleh keturunan muslim China. Tidak heran kemudian jika banyak ulama karismatik Jawa yang memiliki persambungan nasab dengan pedagang-pedagang China, salah satunya adalah nasab keluarga Hasyim Asy’ari (pendiri NU/Nahdlatul Ulama).

Asia Tenggara dan China adalah kesatuan niaga yang telah menjadikan wilayah ini sangat makmur. Kolonialis­melah yang telah menjadikan wilayah ini terkotak-kotak dan kaku. Dengan dibukanya kembali perdagangan bebas, harapan besar menanti, yakni kembalinya dua wilayah menjadi kekuatan ekonomi dunia tanpa tanding. Dibukanya perdaga­ngan bebas dengan China secara simbolis adalah bentuk per­lawanan terhadap sistem dan praktik kolonialisme Be­landa yang telah membelenggu perekonomian Nusantara selama 300 tahun terakhir.

Penulis adalah Program Officer Jaringan Kampus di Jaringan Islam Liberal (JIL).

Posted by: Saidiman Ahmad | January 27, 2010

Monisme Pembaharuan Cak Nur

http://islamlib.com/id/artikel/monisme-pembaharuan-cak-nur/

Januari 40 tahun lalu, Nurcholish Madjid (Cak Nur) mencanangkan gerakan pembaharuan Islam dalam sebuah makalah panjang berjudul Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Ummat. Makalah yang dipresentasikan pada pertemuan PII, GPI, dan HMI itu mengulas masalah yang sedang dihadapi oleh ummat Islam di tengah gairah kebangkitan agama pada masa itu. Menurut Cak Nur, kebangkitan agama yang ditandai dengan semakin diterimanya simbol-simbol Islam dalam kehidupan publik harus disikapi dengan upaya pembaharuan pemikiran Islam. Tetapi, upaya pembaharuan itu menghadapi tantangan disintegrasi ummat.

Read More…

Posted by: Saidiman Ahmad | December 14, 2009

Bintang Laut

Koran Tempo, 13 Desember 2009

AKU kembali ke pantai ini. Mengingatmu, perempuan laut.

Akan selalu kuingat ketika di siang hari menjelang asar kita tidak pernah sabar menanti air surut ke tengah. Ketika garis pantai semakin menjauh, kita akan berlari ke tengah. Bergabung bersama anak-anak remaja yang mulai berkumpul. Ada yang memasang tiang gawang. Yang lain membagi diri menjadi dua regu. Seperti biasa, ketika permainan bola sore telah dimulai, kita akan berjalan mendekati pantai yang semakin jauh. Karang-karang aneka bentuk mulai muncul ditinggal laut yang menyusut. Kamu akan mulai mengumpulkan kerang-kerangan tak berpenghuni. Memungutinya. Membuntalnya di baju. Bajumu menjadi basah. Butiran-butiran pasir melekat di kulit perutmu yang tersingkap.

Pernah juga aku menemukan bintang laut yang tersesat. Dia terdampar dan tak sempat memburu air yang keburu surut. Aku memberikannya kepadamu. Kamu tak mau memegangnya. Kamu tidak suka kasar kulitnya. Sementara tentakelnya yang membuka-tutup menakutimu. Tapi aku suka. Bentuknya yang persegi lima dengan masing-masing jari sama panjang selalu menarik perhatianku. Aku katakan ambillah. Kita akan susah menemukannya di pagi hari. Bintang laut tidak menyukai pasir. Mereka hidup di air dangkal berkarang. Kamu bertanya kenapa bisa begitu. Aku tidak pernah bisa menjawab. Read More…

Posted by: Saidiman Ahmad | December 3, 2009

Discussion on Islam and Capitalism

islamlib.com

by Saidiman and Malja Abror

First Day Discussion: Islam’s Response upon Capitalism
Teater Utan Kayu, Jakarta, 23 March 2009

The first discussion about “Islam and Capitalism”, 25 March 2009, analyzed the debates over relation between Islam and capitalism. M. Dawam Rahardjo (Director of Lembaga Studi Agama dan Filsafat) and Luthfi Assyaukanie (Chairman of Jaringan Islam Liberal) presented their papers before 70 participants of discussion. Read More…

Posted by: Saidiman Ahmad | November 26, 2009

Prahara Kopi Pekat di Pagi Bisu

Saya bekerja di toko roti di seberang jalan itu. Sudah lama saya mengenal Anda. Siapa yang tidak kenal pengarang seperti Anda. Saya membaca semua novel Anda. Novel terakhir terus mengusik pikiran saya. Tampaknya semua orang yang membaca akan selalu ingin melanjutkan ceritanya dalam imajinasi. Saya ingin melanjutkannya dalam kehidupan saya sendiri. Read More…

Posted by: Saidiman Ahmad | November 26, 2009

Berburu

 

Aku melihat fasis bergerak berderap-derap

di permukaan kerak bumi yang padat

Mereka mengubah khutbah menjadi senjata

dan biji-biji tasbih menjadi peluru.

 

Berdirilah

Berkobar-kobar semangatmu

Berapi-api jiwamu

Ambil tahiyat terakhir

Patahkan di udara

Di depan sana menunggu orang-orang serakah.

 

Mereka bergerak berderap-derap

Mereka membunuh membunuh membunuh

Merampok kedamaian

Memperkosa kebebasan

Membakar dunia.

 

Tapi, hari ini kita angin menderu-deru

Songsonglah dan terbitkan gentar di hati mereka

Jungkalkan sujud-sujud mereka

Pecahkan takbir di kepala mereka.

 

Mereka bergerak berderap-derap

Kita gelombang gemuruh

Berburu berburu berburu.

 

Jakarta, 19 November 2009

Posted by: Saidiman Ahmad | November 26, 2009

Telaga di Matamu Memancarkan Pagi

 

Telaga di matamu memancarkan pagi

tak habis-habis kupandangi

aku ingin menggigil telanjang di sana

 

Bau cendana di putih susumu

kuhirup kuhirup kuhirup

 

Aku ingin rebah

di bulu halus kulit perutmu

 

Jakarta, 16 November 2009

Posted by: Saidiman Ahmad | November 26, 2009

Pada Sebuah Karnaval

 

Pada sebuah karnaval senja yang tak rapi

seorang ibu menepi di jalan tersisih

berdiri

Ia pasrahkan rintik hujan

semena-mena menggempur wajahnya

Sementara angin menelusuk masuk

tanpa bisa ia kenali

 

Di seberang jalan,

orang-orang di tepi

Merokok tak tahu diri

Menebar racun di angin lirih

Rencananya busuk tak punya hati

Membunuh entah siapa lagi

 

Jakarta, 10 November 2009

Posted by: Saidiman Ahmad | November 26, 2009

Laki-laki, Perempuan, dan Buku Tua

 

Laki-laki dengan jidat hitam penyok

Membasuh mata, telinga, dan tumit

Akalnya selambat bekicot

Bersimpuh

Menyeruduk seperti babi yang kikuk

 

Perempuan berwajah takluk

Berdiri dengan lutut setengah ditekuk

Rambutnya busuk

Di balik taplak dibekuk

 

Buku tua lusuh dari negeri yang jauh

Sampulnya kusut kulit belut

Dibawa saudagar dan angin laut

Di sini menebar benci berlagak suci

 

Aku geli dikerubut curut

 

Jakarta, 9 November 2009

Posted by: Saidiman Ahmad | November 26, 2009

Kisah Para Pemburu

 

Mahasiswa-mahasiswa berlarian ke jalan raya

Politisi-politisi mulai tumbuh sayapnya

Terbang bersangga udara

Ada yang hinggap di bubung rumah

Berceracau tentang kartel dan buru rente

 

Kepala batu-kepala batu

Bagaimana hendak kusebut engkau

Sedang di fesbuk mukamu buruk

 

Jakarta, Oktober 2009

Posted by: Saidiman Ahmad | November 26, 2009

Ode Sunyi

 

Ada yang tampak enggan

seolah semuanya adalah tubir

tak ada waktu sekedar berpaling

menunggu jatuh kepada bayang yang jauh

 

Ada yang tampak risau

seolah semuanya adalah tepi

yang kekal hanya masa lalu

dan hayal tak ada lagi

 

Ada yang tampak ragu

ketika janji menjadi kering

dan harapan tinggal ilusi

 

Pondok Indah, 25 April 2007

Posted by: Saidiman Ahmad | November 26, 2009

Pram

 

dari satu epik sejarah yang tidak pendek

apa yang masih mungkin diterima?

kerap hanya terpaku: sesekali menengadah angkasa

semacam ratapan yang menyumbat tenggorokan

 

telah terbaring di sini cita-cita masa depan

dari kepurbaan manusia

 

aku tak sanggup menitikkan air mata

si kerempeng menyatu dengan bumi

di atas mana jejak langkah manusianya benar-benar manusia

 

tidak, kau bukan dewa, kau bukan tuhan

 

revolusi harus dimulai, katamu

dan, jangan pernah bermimpi untuk berhenti

dalam setiap belenggu, bergeraklah

ikuti arah angin

rebut kebebasan yang tersisa

dengan segala daya yang sebentar lagi habis

 

ya, kamerad…..

jalan perang mungkin lebih baik daripada dinista

 

gadis pesisir jawa itu telah datang

memberimu sepucuk surat:

 

“telah kutitipkan rinduku di awan

yang kelak berpendar dan hilang

pulanglah menjelma di putih itu

sebelum semburat langit merubahnya jingga

 

birahi malam mengendap dalam kelam hampa

bersama senja yang tak bersisa

dan igau yang berhenti di titik cakrawala merah”

 

Ciputat, 12 Juni 2006

Posted by: Saidiman Ahmad | November 26, 2009

Sajak Puisi

 

Akan kutulis puisi ini seindah mungkin. Malam ini begitu kelam. Semuanya serba pekat seperti bayang-bayang purba. Hanya tersisa bias satu dua bintang mengerdip malu-malu di sela-sela awan yang siap tumpah ke bumi. Inilah titik tersunyi dari satu sisi kehidupan. Semilir angin sepoi malam menerpa wajah, mengantarkan titik air. Basah.

Puisiku runtuh setengah jadi, tapi kurasakan kelenjar berpikirku telah berhenti bekerja. Tanganku sekarang hanya memegang pulpen, memutar-mutarnya di antara jari jemari, mengantarnya kemulut, kugigit ujungnya. Aku bingung, apa lagi yang hendak kutuangkan dalam kertasku? Aku telah menulis dua baris puisi sebagai ungkapan rasa. Tapi aku merasakan masih ada yang tersisa. Puisi sepenggalku itu belum mewakili seluruh apa yang berkecamuk di hatiku. Aku baru mengungkapkan riak-riaknya, tapi belum sampai pada kedalaman gelombangnya.

 

Ciputat, 2005

Posted by: Saidiman Ahmad | November 26, 2009

Gong

 

Sebuah gong di puncak sebuah bukit menggelegarkan sebuah suara, ditabuh. Suara gong di sebuah bukit itu menyebar menembus udara, memekakkan telinga, memantul di dinding-dinding tebing, menyisakan gema, terdengar sampai jauh.

 

Akan kuceritakan kepadamu kisah sebuah gong yang kini ditabuh dan terdengar sampai jauh. Jauh sebelum ia ditabuh dan terdengar sampai jauh.

 

Ciputat, 2005

Posted by: Saidiman Ahmad | November 26, 2009

Ranggas

 

Kau tahu kita di sini hanyalah bayangan yang tampak dan juga akan lenyap seperti angin entah kemana. Kau tahu kita di sini bukan apa-apa. Berapa malam yang telah melewati kita di sini, tak jua satupun yang menganggap kita benar-benar ada. Karena kita adalah bayangan. Seperti pepohonan itu, kita ranggas dan mengering.

 

Sabtu pagi seminggu yang lalu, kuceritakan padamu tentang seorang tua yang datang kemari. Tidak jelas benar apa yang ia tuju. Ia hanya datang, duduk, menangis, lalu pergi. Beberapa saat setelah si tua itu pergi, datang lagi si tua yang lain. Tak jelas juga apa maunya. Ia datang, duduk, merokok, kentut, menangis, lalu pergi. Apa yang mereka maksud dengan menangis? Bahasa apa itu?

 

Pagi tadi, dua tua itu datang lagi kemari. Mereka menangis lagi. Ada apa? Ingin kutanyakan padanya, andai angin dan embun tak membuatku ragu.

 

Ciputat, 2005

Older Posts »

Categories