Dimuat oleh Sinar Harapan, 2 Februari 2010
OLEH: SAIDIMAN AHMAD
Sesaat setelah perdagangan China dan Asia Tenggara dibuka bebas (ACFTA/ASEAN-China Free Trade Area), barang-barang komoditas China mulai membanjiri pasar-pasar di Indonesia.Barang-barang itu mulai dari berupa barang elektronik sampai mainan plastik anak-anak. Toko-toko obat di Semarang, misalnya, juga kebanjiran produk-produk China.
Akan tetapi, meski kebanjiran obat-obat dari China, pada saat yang sama toko-toko obat itu juga kebanjiran konsumen. Masyarakat yang selama ini mendengar ramuan-ramuan obat China kini benar-benar menyerbu toko-toko obat yang telah bebas menjual produk-produk tersebut.
Perdagangan bebas dengan China sejatinya bukanlah hal baru bagi masyarakat di Nusantara. Beratus tahun lalu, pulau-pulau di Nusantara adalah wilayah perdagangan bebas dengan pelaku utamanya adalah pedagang Nusantara, China, India, Arab, dan Eropa. Beberapa negara Eropa yang kemudian melakukan pendekatan militer dan mulai memonopoli perdagangan membawa kerugian panjang yang masih dirasakan sampai sekarang.
Pada abad ke-15 dan 16, beberapa kerajaan Nusantara seperti Gowa-Tallo di Makassar dan kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku membangun kerja sama perdagangan dengan China. Pelabuhan-pelabuhan juga dibuka secara bebas, perahu dari negara mana pun boleh membuang sauh dan berdagang. Sistem perdagangan bebas ini menjadikan masyarakat Nusantara memiliki pergaulan internasional. Tak heran jika otoritas-otoritas politik mengeluarkan pernyataan tentang “kebebasan di laut”. Laut adalah milik Tuhan, dan siapa pun bebas melayarinya untuk mencari kehidupan.
Keadaan ini berubah ketika kapal-kapal dagang dan militer Eropa mulai memasuki perairan Nusantara. Mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga ingin menguasai sumber-sumber komoditas perdagangan. VOC, misalnya, menetapkan sejumlah aturan yang mengikat dan membatasi perdagangan bebas. Ketika VOC digantikan oleh pemerintahan Hindia Belanda yang berpusat di Batavia pada tahun 1800, perdagangan bebas benar-benar ditutup dan diganti dengan monopoli. Pelabuhan Makassar, Tuban, dan Malaka yang tadinya adalah pelabuhan internasional yang bebas, saat itu hanya menjadi milik Belanda. Pedagang-pedagang China dilarang membuang sauh di sana.
Masuknya Inggris ke Nusantara dan menjadikan Singapura sebagai pelabuhan internasional yang bebas menjadikan pelabuhan-pelabuhan Nusantara lain yang didominasi oleh Belanda menjadi semakin mati. Pedagang-pedagang China dan India dengan cepat beralih ke Singapura. Dengan kondisi semacam ini, pemerintah Belanda akhirnya mengeluarkan kebijakan perdagangan bebas kembali dengan membuka pelabuhan-pelabuhan utama di Nusantara untuk para pedagang asing. Akan tetapi, pembukaan itu masih setengah hati, karena Belanda tetap melakukan pembatasan komoditas perdagangan. Barang-barang tertentu tidak bisa diperjualbelikan dengan China. Akibatnya, gairah perdagangan internasional di Nusantara masih dingin. Sementara Singapura telah menjadi kota perdagangan yang sangat bergairah.
Kebijakan monopoli ekonomi Belanda adalah buah dari pandangan ekonomi merkantilis. Merkantilisme yang banyak dianut di Eropa saat itu menganggap bahwa kesejahteraan adalah sesuatu yang utuh dan tetap. Ketika sebuah negara mencapai kemakmuran tertentu, maka ada negara atau wilayah lain yang jatuh bangkrut. Jika kekayaan mengalir ke satu tempat, tempat lain akan miskin. Keyakinan semacam ini ditentang oleh pemikir-pemikir ekonomi liberal Inggris. Mereka mengatakan bahwa aspek kreativitas individu sangat berpengaruh dalam upaya memakmurkan sebuah masyarakat. Itulah sebabnya, kebijakan pemerintah Inggris ketika menguasai Singapura sangat berbeda dengan Belanda ketika menguasai Tuban dan Makassar. Yang pertama dibuka seluas mungkin menjadi kota perdagangan bebas internasional, sementara yang kedua ditutup dan dimonopoli. Akibatnya bisa dirasakan sampai sekarang.
Melihat latar belakang sejarah semacam itu, maka perdagangan bebas dengan China sekarang ini bukanlah sesuatu yang asing. Inisiatif ini adalah bentuk upaya untuk membangkitkan kembali pergaulan internasional yang pernah tumbuh dan ada di Nusantara. Menurut sejumlah laporan sejarah mutakhir, posisi Nusantara dalam perdagangan dan pergaulan internasional sangat penting.
Melawan Kolonialisme
Pada abad pertengahan, menurut Gevin Manzies, ada dua kekuatan laut yang paling berpengaruh di dunia, yaitu China dan Nusantara. Dua negeri inilah yang merajai laut. Dan di masa lalu, ketika pesawat terbang belum ditemukan, hanya mereka yang menguasai lautlah yang sebetulnya menguasai pergaulan dunia. Posisi Nusantara yang sangat strategis menjadikan wilayah ini sangat bergairah dalam dunia kelautan.
Hubungan erat dengan China di masa itu tidak hanya mendatangkan gairah ekonomi, melainkan juga berpengaruh pada budaya masyarakat Nusantara. Islam, yang sekarang dianut oleh mayoritas penduduk Nusantara, diyakini oleh sebagian pengamat dibawa oleh pedagang-pedagang China, bukan oleh ulama-ulama dari Gujarat, seperti yang selama ini tertulis dalam buku-buku sejarah. Salah satu tokoh Islam China yang sangat terkenal adalah Laksamana Cheng Ho.
Cheng Ho dan pasukannya bahkan mendirikan beberapa kota yang masih berpengaruh sampai sekarang, di antaranya adalah Sam Po Lang (Semarang). Kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak, juga disinyalir adalah kerajaan yang dibangun oleh keturunan muslim China. Tidak heran kemudian jika banyak ulama karismatik Jawa yang memiliki persambungan nasab dengan pedagang-pedagang China, salah satunya adalah nasab keluarga Hasyim Asy’ari (pendiri NU/Nahdlatul Ulama).
Asia Tenggara dan China adalah kesatuan niaga yang telah menjadikan wilayah ini sangat makmur. Kolonialismelah yang telah menjadikan wilayah ini terkotak-kotak dan kaku. Dengan dibukanya kembali perdagangan bebas, harapan besar menanti, yakni kembalinya dua wilayah menjadi kekuatan ekonomi dunia tanpa tanding. Dibukanya perdagangan bebas dengan China secara simbolis adalah bentuk perlawanan terhadap sistem dan praktik kolonialisme Belanda yang telah membelenggu perekonomian Nusantara selama 300 tahun terakhir.
Penulis adalah Program Officer Jaringan Kampus di Jaringan Islam Liberal (JIL).
