Posted by: Saidiman Ahmad | July 24, 2014

Jokowi dan Reformasi Birokrasi

0,,17766662_303,00

Dimuat Deutsche Welle, 23 Juli 2014

Jokowi-Jusuf Kalla memenangkan pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia 2014. Ada harapan besar yang harus ditunaikan oleh Jokowi pada pemerintahannya nanti. Harapan itu bernama reformasi birokrasi.

Berdasarkan debat Capres dan Cawapres yang digelar KPU selama masa kampanye, nampaknya kata kunci bagi rezim Jokowi kelak adalah reformasi birokrasi. Jokowi mematok target 7% pertumbuhan ekonomi di masa kepemimpinannya. Untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi pada level seperti Cina saat ini tentu bukan perkara mudah, tapi juga bukan hal yang mustahil. Diperlukan pembangunan infrastruktur yang massif dan ditunjang oleh penguatan sumber daya manusia untuk mencapai impian itu. Namun yang jauh lebih mendasar sebetulnya adalah penguatas institusi birokrasi sebagai penyelenggara negara.

Mark Turner (peneliti dari University of Canberra) menemukan bahwa performa birokrasi menentukan pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang. Singapura dan Malaysia, misalnya, 50 tahun terakhir mencapai pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan, peningkatan angka harapan hidup, dan kemajuan pendidikan dimulai dari perbaikan performa birokrasi yang juga mengagumkan.

Kita berharap banyak pada Jokowi dan Jusuf Kalla bisa mewujudkan peningkatan kinerja birokrasi melalui serangkaian program reformasi yang massif. Ketika ditanya mengenai cara mengurangi korupsi, pada debat kandidat yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum, Jokowi mengajukan reformasi birokrasi sebagai jawabannya. Saat itu ia merinci bahwa proses rekrutmen kaum birokrat merupakan unsur yang maha penting yang akan menentukan pengurangan korupsi di Indonesia. Dia mengusulkan sistem rekrutmen terbuka atau lelang terbuka (open recruitment).

Jokowi sudah memulai menerapkan sistem lelang terbuka untuk lurah dan camat se-DKI Jakarta tahun 2013. Basuki Tjahaya Purnama menyatakan bahwa open recruitment yang pemerintah DKI Jakarta jalankan tahun 2013 berhasil mengubah 70 % wajah birokrasi di ibu kota. Selain itu, pemerintah kota juga berhasil mengidentifikasi 700 pegawai negeri yang memiliki skill tinggi yang sewaktu-waktu bisa menempati posisi-posisi penting mulai pada level tertinggi sampai pada birokrasi level lapangan (street-level bureaucracy) DKI Jakarta.

Street-level bureaucracy adalah ujung tombak penyelenggaraan negara. Merekalah yang sesungguhnya secara langsung berhadapan dengan masyarakat. Mereka pula yang mengetahui detil persoalan. Para pemimpin yang terpilih melalui proses politik tidak akan bisa berbuat banyak jika birokrasi level lapangan ini tidak memiliki kualitas yang baik. Mungkin masih terlalu dini untuk menilai apakah open recruitment yang telah diterapkan di Jakarta menuai dampai positif pada performa birokrasi atau tidak. Kenyataan di lapangan adalah bahwa rezim Jokowi-Ahok di Jakarta berhasil merevitalisasi sejumlah pasar dan waduk hanya dalam tempo kurang dari tiga tahun. Pelayanan pada level kecamatan dan kelurahan juga meningat tajam.

Yang perlu dilakukan oleh Jokowi adalah mengangkat sistem lelang jabatan itu ke level nasional dan memperluasnya ke posisi-posisi birokrasi yang lebih banyak. Pada level nasional, sebetulnya sistem open recruitment sudah menjadi satu dari 10 agenda reformasi nasional (Kemenpan, 2013). Kementerian pendayagunaan apparatus negara bahkan sudah merinci langkah demi langkah penerapan sistem lelang terbuka untuk jabatan-jabatan tertentu dalam birokrasi.

Jika ini berhasil dijalankan oleh pemerintahan Jokowi dengan baik, ada sejumlah persoalan besar yang kemungkinan akan tertangani dalam lima tahun ke depan. Yang pertama adalah korupsi. Sistem lelang terbuka akan mendorong perbaikan mutu para birokrat. Sistem ini juga secara langsung akan meningkatkan iklim kompotesi dalam birokrasi. Dalam sistem birokrasi tradisional, promosi jabatan hanya didasarkan pada lamanya pengabdian dan upgrade kemampuan melalui training formal (Hughes 2003). Konsekuensi langsung dari sistem lama ini adalah tertutupnya peluang bagi para birokrat muda bertalenta untuk menduduki jabatan yang sesuai dengan kemampuannya. Sementara biroktrat lama akan terus dipromosikan menduduki jabatan penting hanya karena ia sudah lama mengabdi, meskipun sebetulnya tidak punya kemampuan yang baik. Dengan tiadanya iklim kompetisi dan rasa krisis karir, para birokrat di era birokrasi tradisional, tidak memiliki insentif untuk bekerja maksimal.

Bayangkan, ada 60 juta individu Indonesia yang seharusnya membayar pajak. Hanya 20 juta di antaranya yang melaporkan diri sebagai wajib pajak. Yang benar-benar patuh membayar pajak hanya sebesar 8,8 juta orang. Dari 5 juta badan usaha, 1,9 juta saja yang mendaftarkan diri sebagai wajib pajak. Dan yang benar-benar membayar pajak hanya 520 ribu badan usaha (Manurung 2013). Lalu silakan terperangah. Di Malaysia, negara yang bahkan belum demokratis, tingkat kepatuhan pajak dari wajib pajak mencapai 80%. Pembicaraan kita masih tentang lemahnya negara mengumpulkan pajak. Kita belum bicara soal bagaimana dana negara dari pajak yang jauh sekali dari maksimal itu dikelola. Maka tidak bisa tidak kita membutuhkan suatu gerakan massif memperbaiki mutu dan meningkatkan kinerja para penyelenggara negara beberapa kali lipat.

Sekali lagi, tentu ini bukan perkara mudah. Mark Turner menemukan bahwa kesulitan mereformasi birokrasi di negara-negara Asia disebabkan oleh budaya patronase yang sangat kuat. Patronase adalah semangat perkawanan di mana individu yang memiliki status sosio-ekonomi yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumberdayanya untuk melindungi dan memberi keuntungan bagi yang berkedudukan lebih rendah (client), sementara sang client pada gilirannya memberi dukungan dan bantuan termasuk pelayanan personal bagi sang patron (Turner, 2013: p. 277). Definisi ini menjelaskan bagaimana hubungan antar birokrat di Indonesia, di mana yang berposisi lebih tinggi ‘mengayomi’ yang lebih rendah, sementara pegawai rendah memberi pelayanan. Hubungan antar-birokrat Indonesia di era modern ini masih belum beranjak terlalu jauh dari budaya kerajaan masa silam. Dan sekarang kita berharap pria kurus dari Solo, salah satu pusat kerajaan Jawa, itu untuk memperbaikinya. Semua kita patut mendukungnya.

 

 

Posted by: Saidiman Ahmad | February 25, 2014

Ayo Bantu Jakarta!

Diskusi : Ayo Bantu Jakarta! – Inspirasi.co.

Dari jauh, saya membaca berita soal Jakarta: banjir, macet, banjir, macet, banjir lagi. Berita tentang harapan bahwa pemerintah kota akan segera mengatasi pelbagai masalah itu. Berita tentang beberapa situs yang berhasil dipulihkan. Berita tentang rencana membangun moda transportasi massal yang modern. Berita tentang pembangunan saluran-saluran air. Berita tentang pembangunan taman-taman kota. Tapi juga berita tentang dana yang terbatas, dihambat, atau memang tidak cukup.

***

Jefrey D. Sachs melakukan rihlah prihatin ke Afrika. Ia bersama Bono. Dari jarak yang sangat dekat, mereka mengamati kemiskinan. Mencoba merasakannya. Berempati. Kemiskinan itu tidak baik, kata Amartya Sen. Ia tidak hanya tidak baik buat orang miskin, tapi juga untuk orang tidak miskin. Ia tidak baik untuk siapapun. Kemiskinan jauh lebih mengganggu dari suara musik yang diputar terlalu keras dari kamar tetangga. Harus dihentikan.

Maka mulailah mereka bekerja. Sachs bertugas meyakinkan para pengambil kebijakan tingkat dunia untuk serius memikirkan dan mencari solusi bagi penyelesaikan kemiskinan. Muncul banyak inisiatif yang melengkapi pelbagai kesepakatan tingkat global untuk mengakhiri kemiskinan. Salah satunya adalah Millenium Development Goals (MDGs). Gagasan utamanya adalah bahwa negara-negara maju harus menyisihkan minimal 0.7 persen pendapatannya untuk disalurkan pada negara-negara miskin.

Bono melobi para musisi, bintang film, para pesohor media di Amerika dan Eropa untuk ambil bagian dalam menanggulangi kemiskinan. Hasilnya, digelar pelbagai konser amal untuk membantu anak-anak miskin seluruh dunia. Muncul trend bagi para artis Hollywood mengadopsi anak-anak miskin Afrika. Para pesohor itu tampil terdepan dalam kampanye anti-kemiskinan. Bill Gates, orang paling kaya sejagad, menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk membantu orang miskin.

Buku Jeffrey Sachs, The End of Poverty, menjadi bacaan yang sangat populer di pelbagai negara. Semua orang mulai memikirkan kemiskinan. Negara-negara maju berlomba menjadi yang terdepan membantu negara-negara miskin. Bukan hanya Amerika dan Eropa, tapi juga Jepang, Cina, bahkan beberapa negara dari kawasan Arab. Lembaga-lembaga donor internasional terus menerus menempuh pelbagai cara untuk mengumpulkan dana. Maka tidak heran jika tiba-tiba, misalnya, muncul iklan pada televisi publik Canberra atau Munich tentang pengumpulan dana untuk bantu orang miskin di Nusa Tenggara Timur. Mereka membangun banyak sekali sekolah, rumah sakit, jalan-jalan raya, dan membiayai pendidikan anak-anak miskin.

Sidang pembaca. Melalui kampanye yang massif itu, penduduk dunia, terutama dari negara-negara maju ternyata bisa digerakkan untuk tujuan mulia menghapus kemiskinan dari muka bumi. Prosesnya sedang dan tentu akan terus berjalan.

Inisiatif untuk membantu negara-negara miskin tentu tidak berjalan dengan sangat mulus. Ada sejumlah kendala yang mengundang kritikan. Para ekonom dan aktivis, mulai dari yang berada di sayap kiri sampai yang ada di sayap kanan liberal melancarkan kritik tajam. Yang di kiri mencurigai bantuan luar negeri itu adalah upaya negara-negara kuat mengkooptasi negara-negara lemah. Sementara yang berada di kanan-liberal sangat skeptis: bantuan luar negeri itu bukan hanya tidak akan berhasil mengubah nasib si miskin, malah akan memperburuk keadaan. William Easterly, misalnya, menyatakan bahwa tidak ada negara yang beranjak maju hanya karena bantuan luar negeri. Sebaliknya, negara seperti Cina, justru menyongsong kemajuannya sendiri dalam sunyi bantuan luar negeri. Mereka yang relatif moderat, seperti Wolfensohn, coba menganalisis bahwa penyebab tidak efektifnya bantuan luar negeri adalah karena korupsi, kebijakan yang buruk, dan lemahnya pemerintahan negara-negara penerima bantuan. Debat ini ingin saya tulis pada bagian lain di forum terhormat ini.

Terlepas dari debat sengit itu, satu hal yang pasti: mobilisasi bantuan dari orang berpunya kepada kaum papa berhasil dilakukan. Orang-orang dari negeri-negeri makmur menyisihkan hartanya untuk membantu orang-orang miskin dari negara dan benua lain.

***

Saya membayangkan orang-orang Jakarta melakukan hal yang sama. Saya bayangkan ada gerakan di luar negara untuk mengatasi persoalan kota Jakarta. Saya membayangkan para pemusik, penyanyi, artis sinetron, pelawak, pengusaha, sastrawan, pemilik media, jurnalis, dan semua orang berduit Jakarta bergerak bersama mengatasi persoalan kotanya. Mereka mengumpulkan dana untuk membeli bus-bus, menutupi kekurangan bus Trans-Jakarta. Mereka patungan mendanai pembangunan MRT. Mereka bersatu padu mendanai pembangunan rumah-rumah susun bagi orang-orang miskin yang tergusur dari waduk-waduk yang dipulihkan. Saya bayangkan Dewa 19, Soneta, Iwan Fals, Gigi, Ayu Ting Ting, dan Agnes Monica menggelar konser-konser amal untuk Jakarta. Saya bayangkan konser-konser itu tidak hanya digelar di Jakarta, tapi juga di kota-kota dunia yang lain. Para musisi berkolaborasi dengan para ekonom melakukan kampanye internasional agar orang-orang kaya dunia tergerak hati membantu Jakarta. Para pengusaha sablon, konveksi, tukang jahit, pemilik percetakan bahu-membahu menyediakan tempat-tempat sampah di seluruh pinggir jalan dan sudut-sudut kota.

Biarkan para anggota DPRD dan pemerintah kota berdebat soal besaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Orang-orang Jakarta bergerak di luar pagar kekuasaan membantu kota. Ayo kita mulai!

“You may say I am a dreamer. But I am not the only one,” kata John Lennon.

Canberra, 31 Januari 2014

*Saidiman Ahmad, Mahasiswa Master of Public Policy, Crawford School of Public Policy, Australian National University.

- See more at: http://inspirasi.co/forum/post/3576/ayo_bantu_jakarta#sthash.Jqn6bKAY.dpuf

Posted by: Saidiman Ahmad | February 23, 2014

Joke Antar-Bangsa

Equine_jokeDiskusi : Joke Antar-Bangsa – Inspirasi.co.

Sebuah joke lama mengatakan bahwa surga terjadi ketika para chef adalah orang-orang Perancis, polisi adalah orang Inggris, para pecinta adalah orang Italia, teknisi mesin adalah orang Jerman dan semuanya diorganisir oleh orang Swiss. Sementara neraka tercipta jika yang jadi chef adalah orang Inggris, polisi orang Jerman, pecinta orang Swiss dan semuanya diorganisir oleh orang Italia.

Di Indonesia joke semacam ini bertebaran di warung-warung kopi, pangkalan ojek, kafe, televisi, sampai ruang-ruang seminar. Joke tentang orang Batak dan logatnya yang khas: “Semua yang ada di laut boleh dimakan. Asal jangan kapal pesiar. Itupun karena keras.” Demikian halnya joke tentang orang-orang Madura yang cerdas dan berpikir tanpa neko-neko. Suatu ketika, menurut sebuah joke, seorang tukang becak berkebangsaan Madura bernegosiasi dengan calon penumpang. Sang tukang becak menawarkan harga sewa 5000 rupiah. Sementara sang calon penumpang menawar 2000 rupiah. Sang calon penumpang: “2000 aja. Itu rumahnya kelihatan kok. Masak 5000.” Dengan cerdas sang tukang becak menjawab: “Kalau soal kelihatan, bulan juga kelihatan, dek.”

Teman saya, dr. Ryu, bisa semalam suntuk bercerita soal joke-joke tentang orang-orang dari kotanya, Surabaya. Dan semalam suntuk itu pula kita bisa terpingkal-pingkal tertawa. Seorang penjual ayam di suatu pasar di Surabaya, ini lagi-lagi cerita joke, tawar menawar dengan pembeli. Harga seekor ayam ditawarkan 20 ribu rupiah. Ditawar 10 ribu rupiah oleh pembeli. Karena sang pembeli menawar terlalu rendah, sang penjual berkata: “Dek, kemoceng aja yang hanya ada bulu ayam tanpa daging 15 ribu. Ini dengan dagingnya masak ditawar 10 ribu, dek.” Selanjutnya, silakan tambahkan sendiri cerita-cerita lucu lain. Saya percaya, anda punya lebih banyak cerita lucu dan bisa mendemonstrasikannya dengan lebih kocak.

Joke tentang keunikan bangsa-bangsa bisa menjadi sangat hidup di tangan seorang komedian. Di Australia, salah satu negara dengan keragaman budaya yang begitu besar, acara-acara stand up comedy sangat akrab dengan tema-tema joke antar bangsa. Sebuah acara reality show bernama “Muslim Shore” di stasiun televisi SBS sangat terkenal di negeri ini. Acara yang tayang pada prime time ini mengangkat tema seputar kehidupan orang-orang Islam di Australia. Acara ini memparodikan banyak stigma. Stigma tentang orang Islam. Stigma tentang orang luar Islam. Acara yang diperankan oleh anak-anak muda Muslim Melbourne ini mengolok-olok kekolotan dengan jenaka. Mereka yang anti-Barat dan anti-Islam sama lucunya.

Di luar itu, tentu saja terdapat banyak sekali joke dan parody dari dan tentang orang-orang dari pelbagai negeri Muslim. Parodi tentang logat orang-orang IPB (India, Pakistan, Banglades). Juga tentang kebiasaan orang-orang Turki. Aksi-aksi foto selfie dan apa-saja-difoto masyarakat Muslim Asia Tenggara dan Cina juga tak luput dari parodi.

Joke-joke ini bisa menggambarkan banyak hal. Mereka bisa menyiratkan suatu pandangan bahwa masing-masing bangsa memiliki karakter unik yang berbeda satu sama lain. Ada imajinasi bahwa keunikan masing-masing bangsa itu adalah keunggulan komparatif. Dalam ilmu ekonomi mikro, maksimalisasi keunggulan komparatif melalui spesialisasi kerja akan mendatangkan keuntungan maksimal.

Betul bahwa joke antar-bangsa juga bisa dan memang seringkali muncul dalam bentuk olok-olok terhadap bangsa lain. Bagian ini memang perlu dihindari. Tidak perlu diterangkan panjang lebar bahwa keunggulan masing-masing orang tidak ditentukan oleh dari bangsa mana aliran darah dalam tubuhnya mengalir, atau dari agama mana adonan kulit yang mewarnai parasnya. Keunggulan bisa diperoleh dari manapun. Bangsa, suku, etnis, agama, dan sejenisnya tidak banyak punya peran di sana.

Lebih dari itu, masakan Italia memang sangat enak. Surga tercipta ketika orang Italia memasak.

Canberra, 27 Januari 2014

- See more at: http://inspirasi.co/forum/post/3555/joke_antar-bangsa#sthash.Lz7CoQzH.dpuf

Posted by: Saidiman Ahmad | November 27, 2013

Kolam Terpal

Air bukan topik pembicaraan serius di Indonesia. Negara ini adalah tempat jajaran pulau yang dikelilingi lautan. Tanahnya subur. Hujan turun setiap tahun. Air melimpah. Tapi di Gunung Kidul, Yogyakarta, tidak demikian ceritanya. Di sana, hujan jarang turun. Sepanjang tahun, penduduk kekurangan air. Pertanian hanya dilakukan di musim penghujan yang singkat. Selebihnya kering. Tanaman yang tumbuh hanya yang tahan kering. Tidak banyak. Penduduk terjerat kemiskinan. Alih-alih menyisihkan uang untuk pendidikan anak, penduduk harus membeli air dengan harga mahal untuk kebutuhan harian rumah tangga. Tapi persoalan itu mungkin tidak lama lagi akan teratasi sepenuhnya. Suatu hari, seseorang datang dari Jakarta….. 

Baca lanjutannya di sini

Posted by: Saidiman Ahmad | November 26, 2013

Bintang Laut

Originally posted on argumen:

Koran Tempo, 13 Desember 2009

AKU kembali ke pantai ini. Mengingatmu, perempuan laut.

Akan selalu kuingat ketika di siang hari menjelang asar kita tidak pernah sabar menanti air surut ke tengah. Ketika garis pantai semakin menjauh, kita akan berlari ke tengah. Bergabung bersama anak-anak remaja yang mulai berkumpul. Ada yang memasang tiang gawang. Yang lain membagi diri menjadi dua regu. Seperti biasa, ketika permainan bola sore telah dimulai, kita akan berjalan mendekati pantai yang semakin jauh. Karang-karang aneka bentuk mulai muncul ditinggal laut yang menyusut. Kamu akan mulai mengumpulkan kerang-kerangan tak berpenghuni. Memungutinya. Membuntalnya di baju. Bajumu menjadi basah. Butiran-butiran pasir melekat di kulit perutmu yang tersingkap.

Pernah juga aku menemukan bintang laut yang tersesat. Dia terdampar dan tak sempat memburu air yang keburu surut. Aku memberikannya kepadamu. Kamu tak mau memegangnya. Kamu tidak suka kasar kulitnya. Sementara tentakelnya yang membuka-tutup menakutimu. Tapi aku suka. Bentuknya yang persegi lima dengan…

View original 1,209 more words

Posted by: Saidiman Ahmad | November 26, 2013

Kisruh Diplomatik di Tahun Politik

Image

Dimuat Deutsche Welle, 25 November 2013

Angkatlah telepon, Tony! Ini saat yang tepat untuk menjalin kembali hubungan yang terancam retak. Susilo Bambang Yudhoyono, pria yang hendak engkau telepon itu, barangkali adalah satu di antara teman terbaik yang bangsamu miliki saat ini. Tidak lama lagi ia akan digantikan oleh entah siapa. Dan tidak ada yang tahu bagaimana sikap penggantinya itu terhadap hubungan bangsamu dan bangsanya.

Demikian kira-kira gambaran umum desakan media dan pengamat di Australia terhadap Tony Abbott untuk meminta maaf atas kasus penyadapan dinas intelejen Australia pada SBY, Ani Yudhoyono, dan sejumlah pejabat tinggi Indonesia lainnya. Sejak jaringan media ABC mengungkap data intelejen yang dibocorkan oleh Edward Snowden, presiden SBY dan publik Indonesia bereaksi keras. Duta Besar Indonesia ditarik dari Canberra. Ancaman untuk menghentikan kerjasama dua negara tetangga mulai terasa. Beberapa kerjasama militer mulai dihentikan atau setidaknya ditunda. Indonesia juga mengkaji ulang kerjasama dalam penanganan perahu-perahu imigran yang berlayar menuju Australia. Pejabat, pengamat, maupun media di Indonesia bersuara senada, meminta penjelasan dan permintaan maaf resmi Perdana Menteri Australia atas kegiatan memata-matai pejabat-pejabat negara Indonesia.

Australia terbelah. Pejabat-pejabat eksekutif berbeda pendapat dengan publik luas yang diwakili media dan para pengamat. Tentu saja partai oposisi, Buruh, juga mengambil sikap berseberangan dengan Perdana Menteri dan pembantu-pembantunya.

Berhari-hari media-media besar di negeri Kangguru ini mengangkat tema tentang pentingnya memperbaiki hubungan dengan Indonesia. Tim Lindsey, seorang Indonesianis dari Universitas Melbourne, merinci tentang betapa pentingnya Indonesia bagi Australia. Menurut Lindsey (The Age, 21/11), menjaga hubungan baik dengan Indonesia tidak hanya penting dalam penanganan imigran yang siap menyerbu Australia, tapi juga banyak hal lain yang harus dipertimbangkan. Kapasitas Australia menangani terorisme di Indonesia, kerjasama militer yang demikian efektif, ekspor daging yang demikian besar, anak-anak Indonesia yang menjadi salah satu target pasar paling besar sekolah-sekolah dan universitas-universitas Australia, warga Australia yang sekarang mendekam di penjara-penjara Indonesia, dan negosiasi panjang soal pasar bebas Australia-Indonesia adalah sebagian masalah yang harus dipertimbangkan.

Selain itu, Indonesia juga dianggap mitra strategis paling baik. Meminjam istilah Boediono, Indonesia dan Australia adalah tetangga yang ditetapkan oleh nasib. Dua negara ini bertetangga dekat. Dengan jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan kelas menengah yang massif, Indonesia jelas adalah potensi pasar bagi produk-produk Australia. Dibanding dengan mitra lain di kawasan Asia, Indonesia juga bisa menjadi mitra terbaik mengingat kedua bangsa menganut sistem politik yang sama, yakni demokrasi. Mitra ekonomi terbesar Australia adalah Cina yang tidak demokratis. Indonesia adalah negara demokratis terbesar ketiga di dunia. Negara ini juga tempat penduduk Muslim terbesar di dunia. Moody’s dan Standard & Poors, seperti dikutip Lindsey, memprediksi bahwa tahun 2030 negara ini akan menjadi satu di antara 10 kekuatan ekonomi, dan akan masuk lima besar pada tahun 2050.

Bahkan muncul kerisauan akan bahaya konfrontasi dengan Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia 10 kali lipat lebih banyak dari jumlah penduduk Australia. Lebih dari satu juta orang Indonesia tinggal di Australia. Selain itu, pengetahuan tentang Australia jauh lebih luas di Indonesia daripada pengetahuan orang Australia tentang Indonesia. Hanya segelintir orang Australia yang memiliki pengetahuan tentang Indonesia di luar Bali. Orang Australia yang mengetahui bahasa Indonesia begitu sedikit, bandingkan dengan masyarakat Indonesia yang bisa berbahasa Inggris.

Pendeknya, ada kerugian besar menanti di depan jika hubungan diplomatik Indonesia-Australia putus. Pertanyaannya, kenapa Perdana Menteri Abbott tidak segera mengangkat telepon mencoba menjernihkan suasana? Dalam beberapa kesempatan, Abbott menyatakan tentang pentingnya hubungan baik dengan Indonesia. Di depan parlemen, Abbott juga menegaskan bahwa SBY barangkali adalah mitra terbaik dari seluruh dunia yang dimiliki Australia saat ini.

Kenapa tidak meminta maaf? Pertarungan politik dalam negeri barangkali adalah salah satu jawabannya. Abbott dan kabinetnya baru saja dilantik. Koalisi Partai Liberal dan Partai Nasionalis yang ia pimpin baru saja menumbangkan Partai Buruh. Tema kampanye yang ia usung adalah Australia yang kuat. Nasionalisme Australia menjadi tema utama. Menjelang Pemilu, Abbott sering muncul di media bersama tentara. Ia juga beberapa kali muncul dalam keadaan basah kuyup oleh keringat karena sedang berolah raga. Otot, tentara, kekuatan fisik, dan nasionalisme dijadikan pemikat suara. Dan berhasil. Dia memenangkan pertarungan. Abbott yang membangun citra sebagai orang kuat Australia itu memang tidak mudah menundukkan wajah dan meminta maaf. Barangkali akan berbeda kasusnya jika yang sekarang memimpin adalah Kevin Rudd dari Partai Buruh.

Yang juga menarik adalah bahwa kasus penyadapan yang dibocorkan oleh Snowden itu terjadi pada masa pemerintahan Kevin Rudd, Partai Buruh. Kendati begitu, Abbott sama sekali tidak menjadikan kasus ini sebagai alat untuk menyerang Partai Buruh sebagai biang kerok kekisruhan. Yang ia lakukan adalah justru memberi pernyataan bahwa sebuah negara memang selalu mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya untuk kepentingan nasional. Dalam hal ini, Abbott mengambil tanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh rezim Buruh, partai yang menjadi lawan politik partainya. Pada saat yang sama, Partai Buruh mendesak Abbott meminta maaf kepada Indonesia.

Baik partai Buruh, maupun Koalisi Liberal-Nasional, sama-sama menganggap Indonesia adalah mitra yang teramat penting. Merenggangnya hubungan kedua negara akan berdampak buruk. Namun begitu, pertimbangan politik dalam negeri adalah hal lain.

Bagaimana dengan Jakarta? Reaksi keras atas penyadapan oleh negara sahabat tentu bisa dimaklumi. Tetapi kenapa sedemikian keras? Ancaman untuk memutuskan hubungan sama sekali datang bergelombang. Politikus, pengamat, media, dan rakyat umum seolah bersatu-padu. Apakah Australia sedemikian tidak berarti bagi Indonesia? Ketika Lindsey menyatakan bahwa Indonesia adalah salah satu mitra terbaik mengingat letak geografis, sistem demokrasi yang dianut, pasar pendidikan, tujuan ekspor daging, dan sebagainya, pada saat yang sama Australia bagi Indonesia mestinya juga adalah mitra terbaik. Berdasarkan kesamaan sistem politik, Australia adalah satu-satunya tetangga Indonesia yang demokratis dan sama-sama ditetapkan oleh Freedom House sebagai negara yang bebas. Australia adalah negara pemasok sapi terbesar untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Australia adalah negara tujuan utama pendidikan putra dan putri Indonesia. Australia memiliki andil besar membantu aparat Indonesia menumpas terorisme. Australia pula asal wisatawan mancanegera terbesar di Indonesia.

Kenapa reaksi dari Jakarta begitu keras, seolah tetangga ini sedemikian tak berarti? Apakah ini ada kaitannya dengan hari-hari politik di mana sentimen nasionalisme bisa menaikkan keterpilihan partai penguasa yang sedang terpuruk?

Tunggu dulu, media-media Australia hari ini (22/10) ramai membicarakan mantan kepala Badan Intelejen Negara (BIN) AM Hendropriyono yang menyatakan bahwa Indonesia sebetulnya juga berusaha melakukan penyadapan. Ia juga menyebut Indonesia pernah berusaha merekrut agen ganda untuk memata-matai Australia. Namun sampai detik ini, belum ada tanda-tanda Abbott akan meniru langkah SBY menarik duta besarnya.

Ala kulli hal, kedua negara bertetangga ini mengidap saling ketergantungan. Mengeksploitasi kasus penyadapan untuk kepentingan politik dalam negeri bukan pilihan yang tepat. Mengutip pernyataan Nick O’Brien, mantan kepala kesatuan khusus Anti-terorisme Inggris dan sekarang Ketua Australian Graduate School of Policing and Security, Charles Stuart University: “yang akan jadi pecundang (dalam perseteruan ini) adalah rakyat Australia dan Indonesia.”

Saidiman Ahmad,

Mahasiswa Pasca Sarjana Crawford School of Public Policy, Australian National University

Posted by: Saidiman Ahmad | November 19, 2013

Mari Bertani di Kota

ImageDipublish Deutsche Welle (Jerman), 19 November 2013

Tahun ini, Indonesia mengalami krisis bawang putih. Harga bumbu dengan aroma menyengat ini meroket menembus angka 8.000 hingga 10.000 rupiah per kilogram. Sebelumnya, Indonesia juga mengalami krisis bawang merah, tempe, cabe, beras, bahkan garam. Penyebab utama krisis ini tentu saja karena jumlah pasokan tidak memenuhi jumlah permintaan. Terlalu banyak orang ingin makan dengan bumbu-bumbu itu, tapi tidak cukup banyak yang menyediakannya. Harganya kemudian melambung melampaui kemampuan belanja penduduk. Read More…

Posted by: Saidiman Ahmad | November 2, 2013

Pernyataan Diaspora Indonesia untuk Penegakan HAM

Den Haag, 2 November 2013

images

Source: http://www.tempo.co 2013

Kekerasan dan pembubaran paksa sebuah acara pertemuan kelompok masyarakat korban 1965/66 yang terjadi pada tanggal 27 Oktober 2013 yang lalu di Godean Yogyakarta sungguh mengusik perasaan keadilan kami. Kekerasan dan pelanggaran hukum itu dilakukan oleh segerombolan orang yang mengatasnamakan diri Front Anti Komunis Indonesia (FAKI) Yogyakarta pimpinan Burhanuddin. Kelompok ini bahkan menyatakan ancaman terbuka untuk membunuh para keluarga korban tragedi politik 1965 itu. Read More…

Posted by: Saidiman Ahmad | October 20, 2013

Tentang Pencekalan Diskusi

Posted by: Saidiman Ahmad | June 25, 2013

Menarilah, Aceh!

Originally posted on argumen:

Dimuat di Deutsche Welle, 22 Juni 2013. Sumber: http://www.dw.de/menarilah-aceh/a-16898281

Bayangkan anda adalah perempuan yang sedang menikmati liburan di Aceh. Di suatu pagi anda terbangun dan mendapati beberapa polisi berdiri di depan kamar hotel anda. Mereka meringkus dan membawa anda ke kantor polisi. Anda ditahan. Di depan pengadilan anda bertanya kenapa. Mereka menjawab anda telah melanggar peraturan Bupati Aceh Utara tentang larangan menari di depan umum. What? Hukuman anda berlipat karena dalam catatan polisi ternyata satu hari sebelumnya anda duduk mengangkang ketika membonceng ojek di kota Lhokseumawe. Pemerintah kota itu melarang perempuan duduk mengangkang di atas motor. Hah, apa?

Aceh adalah cerita yang tidak selesai ketika perjanjian Helsinki ditandatangani pada 2005. Otonomi khusus yang diperoleh provinsi ujung barat Indonesia ini justru menjadi jendela keterbukaan bagi diterapkannya peraturan-peraturan berbasis syariah Islam atau qanun. Bukan hanya qanun zakat, larangan berjudi, larangan minuman keras dan khalwat, tapi juga sejumlah qanun menyangkut pakaian dan gerak-gerik…

View original 536 more words

Posted by: Saidiman Ahmad | June 24, 2013

Menarilah, Aceh!

Dimuat di Deutsche Welle, 22 Juni 2013. Sumber: http://www.dw.de/menarilah-aceh/a-16898281

Bayangkan anda adalah perempuan yang sedang menikmati liburan di Aceh. Di suatu pagi anda terbangun dan mendapati beberapa polisi berdiri di depan kamar hotel anda. Mereka meringkus dan membawa anda ke kantor polisi. Anda ditahan. Di depan pengadilan anda bertanya kenapa. Mereka menjawab anda telah melanggar peraturan Bupati Aceh Utara tentang larangan menari di depan umum. What? Hukuman anda berlipat karena dalam catatan polisi ternyata satu hari sebelumnya anda duduk mengangkang ketika membonceng ojek di kota Lhokseumawe. Pemerintah kota itu melarang perempuan duduk mengangkang di atas motor. Hah, apa?

Aceh adalah cerita yang tidak selesai ketika perjanjian Helsinki ditandatangani pada 2005. Otonomi khusus yang diperoleh provinsi ujung barat Indonesia ini justru menjadi jendela keterbukaan bagi diterapkannya peraturan-peraturan berbasis syariah Islam atau qanun. Bukan hanya qanun zakat, larangan berjudi, larangan minuman keras dan khalwat, tapi juga sejumlah qanun menyangkut pakaian dan gerak-gerik pola laku warganya.

Partai Nasionalis

Yang menarik adalah bahwa sebetulnya wilayah ini tidak dikuasai oleh kekuatan politik pro-syariat. Pasca perjanjian Helsinki, para aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) masuk politik resmi dan memeroleh kemenangan mutlak dalam serangkaian Pemilu lokal. Sidney Jones menyebut Partai Aceh yang didirikan para aktivis GAM bahkan bisa menjadi partai tunggal di wilayah itu.

Baik GAM maupun Partai Aceh bukanlah kelompok Islamis pengusung syariat. Sebagai partai lokal, untuk berpastisipasi dalam kancah politik nasional, Partai Aceh butuh berkolaborasi dengan partai di tingkat nasional. Mereka tidak memilih Partai Keadilan Sejahtera, Partai Bulan Bintang atau partai Islam lainnya, melainkan partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pada Pemilu Presiden 2009, partai ini juga menjatuhkan pilihan pada pasangan nasionalis Susilo Bambang-Yudhoyono – Boediono, bukan Jusuf Kalla – Wiranto yang didukung ulama-ulama NU dan Muhammadiyah. SBY-Boediono meraih 92 persen suara di daerah ini.

Pertanyaannya adalah kenapa wilayah yang begitu nasionalis, begitu sekuler, dalam hasil Pemilu dan Pilkada ini bisa menjadi lahan subur penerapan syariah Islam?

Pasca perjanjian Helsinki, Aceh seperti lahir kembali. Ada otonomi yang begitu luas diberikan pada daerah penyumbang pesawat kepresidenan pertama itu. Para kombatan turun gunung. Pejabat-pejabat Gerakan Aceh Merdeka di luar negeri berdatangan dan menjadi pejabat resmi provinsi. Mantan menteri luar negeri GAM, Zaini Abdullah, menjadi gubernur menggantikan Irwandi Yusuf yang juga mantan pejuang GAM.

Sentimen Primordial

Pada kelahiran kembali ini, masyarakat Aceh sedang terlibat dalam apa yang oleh Jacques Bertrand sebut sebagai ‘renegosiasi institusional,’ renegosiasi yang kadang sangat alot tentang institusi pemerintahan yang diberi otonomi luas itu. Keputusan-keputusan baru bermunculan. Aceh adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki partai lokal dan menjadi pemenang mutlak dalam Pilkada. Aceh juga memiliki Wali Nanggroe, suatu jabatan yang mengatasi pemerintahan. Lembaga ini mirip dengan posisi raja atau ratu di negara-negara monarkhi konstitusional. Qanun tentang Wali Nanggroe menyebut Hasan di Tiro sebagai Wali Nanggroe kesembilan yang berarti penggantinya, Malek Mahmud, adalah Wali yang kesepuluh. Mereka dianggap sebagai penerus kesultanan Aceh.

Kelahiran kembali ini tentu tidak berjalan mudah. Ada pelbagai kepentingan yang bersaing. Laporan International Crisis Group (ICG) menyebut bahwa lembaga Wali Nanggroe terlalu bias etnis Aceh. Hal mana etnis lain di luar Aceh mungkin tidak terwakili. Sekarang sedang muncul usulan untuk menjadikan bendera GAM sebagai lambang resmi daerah. Usulan ini ditentang habis-habisan oleh beberapa daerah di Aceh yang tidak merasa terwakili oleh lambang itu. Sebuah konvoi dan demonstrasi besar baru-baru ini di Aceh Tengah yang dimotori oleh organisasi bernama Pembela Tanah Air (PETA) berakhir dengan pembakaran bendera GAM. Sementara itu, tuntutan pembentukan provinsi baru dari wilayah yang didominasi etnis Gayo, Aceh Leuser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (ABAS), tak kunjung surut.

Ada ancaman disintegrasi lokal di tengah renegosiasi itu. Sentimen primordial seperti agama dan kesukuan digunakan sebagai pembenar argumen. Lemahnya institusi pemerintahan daerah yang sedang direnegosiasikan menjadi jendela terbuka bagi penerapan syariat Islam. Para elit yang sebetulnya sekuler tak kuasa untuk tidak menggunakan sentimen agama dan kesukuan semata-mata untuk legitimasi politik.

Satu-satunya harapan yang mungkin tersedia adalah bahwa proses renegosiasi institusional di Aceh segera berakhir. Lembaga pemerintahan daerah lekas menjadi solid. Rakyat tinggal menunggu kerja-kerja nyata pemerintah daerah dalam layanan sosial. Ancaman disintegrasi lokal juga bisa teredam. Lalu daerah Hikayat Prang Sabil itu hidup dalam harmoni di mana orang bisa menyanyi dan bisa menari. Hudep beusare mate beu sajan.

Posted by: Saidiman Ahmad | June 1, 2013

Demokrasi Plus Diskriminasi

Sebelumnya dimuat di Deutsche Welle, 31 Mei 2013

Pemberian World Statesman Award kepada Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, oleh Appeal of Conscience Foundation (ACF) menuai kecaman dari dalam Indonesia dan luar negeri. ACF yang berbasis di Amerika Serikat ini menilai SBY berhasil membangun Indonesia yang toleran dan demokratis.

Indonesia di bawah rezim SBY memang menuai pujian. Di tengah merosotnya kualitas kebebasan dunia, Indonesia bertahan sebagai satu dari begitu sedikit negara Asia dan berpenduduk mayoritas Muslim sebagai negara bebas menurut Freedom House. Dengan jumlah penduduk sekitar 4 % populasi dunia, kebebasan di negara ini memang memiliki dampak yang besar bagi dunia, terutama dunia Islam. Larry Diamond dari Stanford University menulis bahwa meski banyak negara lain gagal mempertahankan kualitas demokrasi, Indonesia jauh lebih baik (East Asia Forum, 2009). Read More…

Posted by: Saidiman Ahmad | December 11, 2012

Kebebasan Beragama untuk Agama

Kebebasan beragama perlu karena dua hal. Pertama untuk kebebasan itu sendiri. Pada dasarnya negara dibangun untuk melindungi kebebasan warganya. Konstitusi dibuat untuk menjamin hak-hak setiap individu di dalam negara. Semua orang setara.

Kedua, kebebasan beragama juga penting bagi agama. Di dalam kebebasan, agama bisa dipraktikkan secara genuin tanpa paksaan dari siapapun dan lembaga manapun. Masing-masing orang bisa memilih agama yang ia sukai. Pada kondisi ini pula, para pemuka agama dituntut untuk lebih kreatif menampilkan dan mendakwahkan agamanya. Agama yang tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan akan ditinggalkan. Sementara yang mau berubah dan berbenah diri akan disambut oleh masyarakat.

Kebebasan memperbaiki mutu agama.

Posted by: Saidiman Ahmad | September 24, 2012

Innocence of Muslims dan Keteladanan Nabi

Khutbah Jumat di Masjid Universitas Paramadina, 21 September 2012.

Khutbah ini menanggapi munculnya film “Innocence of Muslims” di Amerika Serikat yang mendapat reaksi sangat keras dari sebagian masyarakat Muslim di pelbagai negara. Reaksi yang sangat keras terhadap film itu sudah berada di luar konteks dan merugikan citra masyarakat Muslim sendiri. Hal itu bahkan di luar dari koridor moral yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad sendiri. Selanjutnya, dengarkan khutbah ini secara lengkap. Terima kasih.

Posted by: Saidiman Ahmad | August 24, 2012

The end of Islamic-based politics

Saidiman Ahmad, Jakarta | Fri, 08/10/2012 8:17 AM | Opiniony
The Jakarta Post

What happened in Jakarta after the “king of dangdut”, Rhoma Irama, delivered a sermon that mentioned the religious beliefs of Basuki Tjahaja Purnama, the running mate of gubernatorial candidate Joko Widodo? Nothing. It is just business as usual as religious sentiment no longer has an influence in politics.

Almost no one had predicted that incumbent governor Fauzi “Foke” Bowo and his running mate Nachrowi Ramli would be defeated by the Widodo-Basuki pairing in the first leg of the Jakarta election last month. Read More…

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 22,086 other followers

%d bloggers like this: