Posted by: Saidiman Ahmad | December 11, 2012

Kebebasan Beragama untuk Agama

Kebebasan beragama perlu karena dua hal. Pertama untuk kebebasan itu sendiri. Pada dasarnya negara dibangun untuk melindungi kebebasan warganya. Konstitusi dibuat untuk menjamin hak-hak setiap individu di dalam negara. Semua orang setara.

Kedua, kebebasan beragama juga penting bagi agama. Di dalam kebebasan, agama bisa dipraktikkan secara genuin tanpa paksaan dari siapapun dan lembaga manapun. Masing-masing orang bisa memilih agama yang ia sukai. Pada kondisi ini pula, para pemuka agama dituntut untuk lebih kreatif menampilkan dan mendakwahkan agamanya. Agama yang tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan akan ditinggalkan. Sementara yang mau berubah dan berbenah diri akan disambut oleh masyarakat.

Kebebasan memperbaiki mutu agama.

Posted by: Saidiman Ahmad | December 7, 2012

[DUS] Setara — Dewi Candraningrum

Kesetaraan tidak hanya penting pada dirinya sendiri, tapi juga berguna untuk kemajuan suatu bangsa.

Damai untuk Semua

Posted by: Saidiman Ahmad | December 7, 2012

[DUS] Logika Sesat Aparat — Asfinawati

Saya sebut ini “Analogi Asfin.” Asfinawati, mantan direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, sering menggunakan analogi ini untuk mengambarkan betapa tidak logisnya aparat hukum ketika mengkriminalkan korban kekerasan atas nama agama.

 

Damai untuk Semua

Posted by: Saidiman Ahmad | December 7, 2012

[DUS] Solusi untuk Palestina-Israel

Bersikap mutlak-mutlakan dalam konflik Palestina-Israel tidak bisa lagi dipakai. Solusi satu negara, Israel atau Palestina saja, akan terus menorehkan serial kekerasan panjang tanpa ujung. Kedua negara tidak harus saling meniadakan.

 

Damai untuk Semua

Posted by: Saidiman Ahmad | September 24, 2012

Innocence of Muslims dan Keteladanan Nabi

Khutbah Jumat di Masjid Universitas Paramadina, 21 September 2012.

Khutbah ini menanggapi munculnya film “Innocence of Muslims” di Amerika Serikat yang mendapat reaksi sangat keras dari sebagian masyarakat Muslim di pelbagai negara. Reaksi yang sangat keras terhadap film itu sudah berada di luar konteks dan merugikan citra masyarakat Muslim sendiri. Hal itu bahkan di luar dari koridor moral yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad sendiri. Selanjutnya, dengarkan khutbah ini secara lengkap. Terima kasih.

Posted by: Saidiman Ahmad | August 29, 2012

Kronologi Syawal Berdarah di Sampang

Kelompok Kerja Advokasi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan
(Pokja AKBB) Jawa Timur

Berikut ini merupakan informasi detail dan mendalam yang diperoleh melalui proses investigasi.

Investigator CMARs berhasil merekam secara detail keseluruhan kronologi Syawal Berdasar di Dusun Nangkrenang, Karang Gayam, Omben Sampang. Invetigasi dilakukan pada tanggal 26-27 Agustus 2012.

Pelbagai temuan di lapangan memperlihatkan bahwa proses penyerangan terjadi secara sistematis dan serentak di dua titik: Desa Karang Gayam dan Bluuran. Pernyataan pemerintah bahwa intelijen Polisi dan TNI gagal, sungguh mengaburkan fakta sebenarnya. Menurut informasi yang berhasil dihimpun menegaskan bahwa pihak kepolisian sudah mengetahui akan terjadi penyerangan, bahkan mengingat sebagian jamaah Syiah untuk berhati-hati. Sekali lagi, pihak kepolisian telah dengan sengaja membiarkan proses penyerangan terjadi yang mengakibatkan korban jiwa dan kerugian material yang tidak terhitung.

Kepolisian juga hanya diam menyaksikan proses serangan terjadi dan pembakaran rumah jamaah Syiah. Berikut adalah kronologi lengkap peristiwa Syawal Berdarah.

Kronologi Penyerangan
1. Pada hari Minggu, 26 Agustus 2012, pukul 08.00 WIB, jamaah Syiah Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, sedang berkumpul di rumah Ust. Tajul Muluk. Mereka melakukan persiapan untuk mengantar sejumlah 20 anak menuju Pasuruan. Ke-20 anak tersebut berencana kembali menuntut ilmu di Yayasan Pesantren Islam (YAPI), Bangil, Pasuruan. Jamaah Syiah tersebut menyewa sebuah minibus untuk mengantar anak mereka.

2. Pukul 10.00 WIB, rombongan anak jamaah Syiah berangkat menuju Bangil, Pasuruan. Dalam minibus juga terdapat Hani (adik Ust. Tajul Muluk) dan Ummu Kulsum (Ibu Ust. Tajul Muluk). Belum sampai keluar gerbang desa Karang Gayam, minibus dihadang oleh sekitar 500 orang. Massa penghadang memaksa rombongan untuk mengurungkan niat mereka berangkat ke Pasuruan. Saat itu, terjadi perang mulut antara massa penghadang dengan jamaah Syiah Sampang. Sejumlah massa kemudian melempari minibus dengan batu. Selain itu, massa juga membakar ban minibus tersebut. Jamaah Syiah yang berada di dalam minibus kemudian berlarian pulang ke rumah untuk menyelamatkan diri.

3. Pukul 10.30 WIB, sebelum pembakaran terjadi, massa anti-Syiah tersebut mengurung rumah Ust. Tajul Muluk, tempat para jamaah Syiah bersembunyi. Massa masih belum melakukan pelemparan pada saat itu. Mereka hanya berhadap-hadapan dengan sorot mata saling mengintai. Seorang jamaah Syiah bernama Muhammad Hasyim alias Hamamah keluar menghampiri massa anti-Syiah untuk mengajak berunding. Sementara jamaah Syiah lainnya berjaga dalam kepungan massa anti-syiah tersebut. Hamamah mengajak berunding 3 orang perwakilan massa anti-Syiah. Namun, mereka justru mengeroyok Hamamah seketika itu juga. Hamamah terkena sabetan celurit di perutnya hingga terjatuh ke tanah. Setelah itu, 3 orang lainnya (massa anti-syiah) ikut menyerang Hamamah.

Melihat Hamamah dikeroyok oleh 6 orang massa anti-syiah, seorang jamaah Syiah bernama Muhammad Thohir ikut membantu menyelamatkannya. Namun sialnya, pertarungan yang tidak seimbang itu menyebabkan Muhammad Thohir juga terkena sabetan celurit di bagian punggung. Ia menderita luka sobek sepanjang 20 cm di bagian punggung hingga tulang punggungnya terlihat. Hamamah akhirnya meninggal dunia akibat luka celurit di perutnya dan di lehernya yang sampai mau putus, sedangkan Muhammad Thohir kondisinya kritis.

4. Pukul 10.45 WIB, melihat pertarungan tersebut, 500 massa anti-Syiah langsung merangsek maju dan melempari rumah Ust. Tajul Muluk dengan batu. Bahkan, beberapa saksi menyatakan bahwa massa anti-Syiah juga melempar bondet (sejenis petasan yang berisi paku, beling dan benda tajam lainnya). Syukurlah, bondet tersebut meledak sedikit jauh dari jamaah Syiah yang sedang berkumpul. Selain melempari batu, massa juga memukul beberapa jamaah Syiah dengan kayu. Banyak perempuan dan anak-anak yang terluka akibat lemparan batu dari massa anti-Syiah. Bahkan, kepala Ummu Kulsum (ibu Ust. Tajul Muluk) bocor akibat terkena lemparan batu. Ia juga dipukuli oleh sejumlah massa, meski telah berusaha dilindungi oleh Hani (adik Ust. Tajul Muluk). Ummu Kulsum sendiri akhirnya pingsan dan harus diselamatkan menuju SDN 4 Karang Gayam.

Sebagian jamaah Syiah Sampang memang menyelamatkan diri di gedung SDN 4 Karang Gayam. Tetapi, beberapa jamaah Syiah yang panik akhirnya melarikan diri menuju gunung dan rumah saudaranya. Sejumlah anggota kepolisian, Brimob, dan Koramil yang ada di lokasi hanya diam dan duduk-duduk melihat penyerangan tersebut. Bahkan seorang jamaah Syiah mengaku melihat salah satu anggota Kepolisian yang berkata, “sudah, bakar habis semuanya! biar nggak ada masalah lagi!”.

5. Pukul 11.00-17.00 WIB, massa anti-Syiah mulai membakar rumah. Perlu diketahui, bahwa serangan tersebut tidak hanya terjadi di Desa Karang Gayam. Aksi penyerangan dan pembakaran juga dilakukan di tempat lain, yaitu Desa Bluuran. Berdasarkan keterangan para saksi, penyerangan di dua desa tersebut dilakukan dalam waktu yang hampir bersamaan. Artinya, massa anti-syiah memang sengaja membagi dirinya menjadi dua kelompok. Sebanyak 500 orang berkonsentrasi menyerang jamaah Syiah di Desa Karang Gayam, sebagian lainnya di Desa Bluuran. Kemudian, massa anti-Syiah mulai membakar rumah jamaah Syiah satu per-satu. Bahkan beberapa ekor sapi, sejumlah motor, dan kendaraan milik jamaah Syiah juga ikut terbakar bersama rumah mereka. Sejumlah manula yang berada di dalam rumah dilempar begitu saja oleh massa anti-Syiah sebelum membakar bangunan rumah mereka.

Jumlah rumah yang habis dibakar memang masih simpang siur. Pihak kepolisian mengatakan bahwa 32 rumah dibakar. Sedangkan berdasarkan hasil wawancara tim investigasi dengan korban, lebih dari 50 rumah jamaah Syiah habis dibakar. Rumah Ust. Iklil Al-Milal (adik Ust. Tajul Muluk) di Desa Bluuran juga termasuk yang dibakar massa anti-Syiah. Setelah aksi pembakaran tersebut berhenti, hanya tersisa 5 rumah jamaah Syiah yang tidak dibakar oleh massa.
6. Pukul 17.30 WIB, sebagian jamaah Syiah yang menyelamatkan diri di gedung SDN 4 Karang Gayam akhirnya dievakuasi menuju Polres Sampang dengan menggunakan truk kepolisian. Jenazah Hamamah juga ikut dibawa dengan menggunakan mobil Ambulance menuju RSUD Sampang, Jl. Rajawali No.10, Kota Sampang. Muhammad Thohir yang sedang dalam keadaan kritis juga dibawa menggunakan mobil kepolisian menuju RSUD bersama korban luka lainnya.

Berdasarkan pantauan tim investigasi, jumlah korban di RSUD Sampang adalah sebagai berikut:
a. Sejumlah 1 orang meninggal dunia. 1 orang yang meninggal dunia dari jamaah Syiah Sampang (Muhammad Hasyim alias Hamamah),
b. Sejumlah 1 orang dalam keadaan kritis (Muhammad Muhammad Thohir).
c. Sejumlah 4 orang mengalami luka berat, sehingga harus menjalani rawat inap
d. Sejumlah 3 orang mengalami luka ringan, dan sudah bisa dievakuasi menuju tempat pengungsian.

7. Pukul 18.30 WIB, jamaah Syiah yang berada di Markas Polres Sampang akhirnya dibawa menuju GOR Sampang, tempat pengungsian sementara. Jumlah jamaah yang diungsikan ke GOR Sampang pada malam itu adalah sebagai berikut:
a. Jumlah Total Pengungsi = 105 orang
b. Jumlah Laki-Laki = 51 orang
c. Jumlah Perempuan = 54 orang
d. Jumlah Anak = 36 orang
e. Jumlah Balita = 9 orang
f. Jumlah Manula = 3 orang
g. Jumlah Orang Dewasa = 57 orang

Para pengungsi tersebut harus menahan makan semalaman, karena bantuan makanan baru datang keesokan hari. Bantuan berupa air bersih juga baru diberikan keesokan harinya. Malam itu, mereka tidur tanpa menggunakan selimut. Padahal angin cukup kencang dan dingin. Beberapa balita bahkan menangis karena kedinginan. Semalaman, pengungsi diisolasi di dalam GOR Sampang. Masyarakat luar, termasuk pekerja sosial tidak diperbolehkan memasuki tempat pengungsian.

8. Pada hari Senin, 27 Agustus 2012, pukul 01.30 WIB sebanyak 70 orang pengungsi jamaah Syiah Sampang dievakuasi menuju GOR Sampang dengan menggunakan truk Kepolisian. Terdapat 1 orang laki-laki yang mengalami luka bocor di kepala, dan 1 orang perempuan mengalami luka sobek di mulut dan wajahnya. Sebanyak 3 balita muntah-muntah dan mengalami luka lecet di lututnya. Beberapa orang lainnya mengalami luka di sejukur kakinya. Semua korban luka tersebut tidak mendapatkan perawatan yang layak dari petugas kesehatan. Mereka hanya diberi obat seadanya, hanya 2 orang saja yang dirujuk ke rumah sakit.

9. Pada hari Senin, 27 Agustus 2012, pukul 16.50 WIB rombongan pejabat berkunjung ke tempat pengungsian. Dari beberapa rombangan tersebut adalah: Mentri Agama Republik Indonesia, Mentri Dalam Negeri RI, Kapoda Jawa Timur, dan ketua Bangkesbagpol. Dalam kunjugan tersebut, Surya Dharma Ali (Mentri Agama) untuk mempermudah komunkasi dengan korban didampingi oleh Rudi Setiadi (Ketua Bangkesbangpol). Surya Dharma Ali bertanya kepada beberapa korban dan hanya berkata sangat menyesal dengan kejadian ini.

Selain itu Surya Dharma Ali juga bertanya kepada Ummu Kultsum (Ibu Ust. Tajul Muluk), ”Apakah yang diinginkan oleh Ibu?” Ummu Kultsum menjawab dengan mengunakan bahasa daerah (Bahasa Madura), yang kemudian diterjemahkan berbeda oleh Rudi Setiyadi (ketua Bangkesbangpol). Dalam pernyataan tersebut Rudi menegaskan bahwa, anak-anak ingin hidup nyaman dan korban inilah yang akan diambil oleh YAPI. Selain itu, Rudi menganggap bahwa jamaah Syiah menginginkan untuk transmigrasi.

Dalam waktu dan suasana yang sama, Kapolda Jawa Timur juga bertanya kepada korban tentang kronologi kejadian dan keinginan korban. Korban berkata bahwa polisi waktu di lapangan melihat kejadian tersebut hanya diam saja. Tanggapan dari Kapolda, kejadian itu sangat cepat dan kalah banyak personil polisi dibanding massa penyerang. Selain itu, korban disuruh tenang saja, karena orang yang menghadang perjalanan rombongan jamaah Syiah sudah meninggalkan lokasi. Kunjungan para pejabat terhadap korban kurang dari satu jam. Dalam kunjungan tersebut, mereka tidak memeriksa terhadap sarana dan prasarana yang ada di tempat pengungsian.

10. Hingga pukul 19.30 WIB, jumlah Pengungsi mencapai 220 orang. Kondisi di pengungsian juga tidak layak. Selama di pengungsian Jamaah Syiah melaksanakan ibadah, seperti sholat hanya di tempat seadanya dengan beralaskan ala kadarnya.

Kronologis Korban Di RSUD Sampang
11. Mohammad Thohir dievakuasi ke RSUD Sampang pada pukul 14.00 WIB. Selama di RSUD korban tidak mendapatkan perawatan yang layak. Hingga pukul 22.30 WIB korban tidak bisa kencing. Pihak Rumah Sakit menyatakan bahwa tidak ada air panas dan Dr. Mulyono tidak berada di tempat. Pada pukul 04.25 WIB korban (Mohammad Thohir) mengerang kesakitan dan sudah tidak kuat menahan rasa sakit. Di kamar korban tidak ada perawat yang ikut merawat korban. Korban hanya dirawat oleh anak dan istrinya. Hingga pukul 06.00 WIB, tidak ada tindakan yang sangat serius dari pihak Rumah Sakit. Maksudnya, dalam situasi yang sangat kritis, oleh RSUD korban tidak dirujuk ke rumah sakit lain atau kepastian korban akan dioperasi.

12. Mohammad Hasyim alias Hamamah adalah korban dari jamaah Syiah yang meninggal. Setelah diotopsi selama kurang lebih 2 jam tidak mendapatkan perawatan terhadap jenazah. Artinya setelah diotopsi jenazah langsung dimasukkan ke ruang janazah. Di Ruang Jenazah, mayat jenazah langsung dikasih es tanpa dibersihkan luka dan penyumbatan terhadap darah yang keluar dari luka. Darah berceceran ke sana ke mari, ke lantai-lantai. Selain itu, keluarga kebingungan untuk memakamkan jenazah. Karena, ada penolakan dari pihak penyerang yang menolak jenazah dimakamkan di Karang Gayam. Sampai pukul 07.00 WIB pada tanggal 27 Agustus 2012 jenazah belum dimandikan dan dikafani. Pada pukul 15.00 WIB tanggal 27 Agustus 2012 jenazah baru bisa dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Sampang.

13. Rumah sakit yang menjadi tempat evakuasi korban dari jamaah Syiah tidak mendapat pengawalan yang serius. Di RS tersebut hanya ada 2 polisi dari Polres Sampang yang berjaga di pintu masuk. Selain itu hanya ada 2 Polisi yang berjaga di pintu gerbang RS.

14. Sampai akhir dari invetigasi pada tanggal 28 Agustus 2012 tidak ada pernyataan yang jelas dari pihak negara mengenai korban yang masuk ke Rumah Sakit.

Berdasarkan hal-hal di atas, kami dari Kelompok Kerja Aliansi Kebebasan Beragama Berkeyakinan (POKJA AKBB) Jatim menyatakan hal-hal sebagai berikut:

1. Menuntut Kapolri untuk melakukan evaluasi internal atas kegagalan Polres Sampang dalam menjamin rasa aman bagi jamaah Syiah, bahkan bila perlu memecat Kapolres Sampang karena kegagalannya dalam menciptakan rasa aman bagi masyarakat.

2. Menuntut Polisi segera bertindak untuk menghentikan penyerang dan menyelamatkan para korban. Perlu dicatat sebagian jamaah Syiah sampai saat ini keberadaanya belum diketahui.

3. Meminta aparat penegak hukum segera menjalankan proses peradilan terhadap para penyerang, pembakar, dan pembunuh demi terpenuhinya keadilan bagi korban dan masyarakat luas tanpa memperdulikan tekanan massa.

4. Meminta negara melakukan upaya pemulihan kepada para korban baik fisik, psikologis, keadilan dan ketidakberulangnya kejadian kekerasan.

5. Mendesak pelbagai institusi hukum untuk meninjau ulang posisi Ust. Tajul Muluk sebagai korban yang telah dikriminalisasi dan ditahan oleh PN Sampang. Terbukti secara meyakinkan bahwa Ust. Tajul Muluk bukanlah penyebab atas semua kekerasan yang terjadi di Sampang.

Surabaya, 28 Agustus 2012

Hormat Kami,

Pokja AKBB
Akhol Firdaus

Pokja AKBB Jatim
1. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya
2. Center for Marginalized Communities Studies (CMARs) Surabaya
3. GKI Sinode Jatim
4. Pusham Unair
5. JIAD Jatim
6. Gus Durian Jatim
7. KPI Jatim
8. Yayasan Maryam
9. Sapulidi Surabaya
10. PMII Jawa Timur
11. KSGK
12. KPPD Surabaya

Posted by: Saidiman Ahmad | August 24, 2012

The end of Islamic-based politics

Saidiman Ahmad, Jakarta | Fri, 08/10/2012 8:17 AM | Opiniony
The Jakarta Post

What happened in Jakarta after the “king of dangdut”, Rhoma Irama, delivered a sermon that mentioned the religious beliefs of Basuki Tjahaja Purnama, the running mate of gubernatorial candidate Joko Widodo? Nothing. It is just business as usual as religious sentiment no longer has an influence in politics.

Almost no one had predicted that incumbent governor Fauzi “Foke” Bowo and his running mate Nachrowi Ramli would be defeated by the Widodo-Basuki pairing in the first leg of the Jakarta election last month.

Apart from the advantage of being the incumbent, Foke is known to have a special relationship with prominent Islamic-based organizations. Foke himself formerly chaired the Jakarta chapter of Nahdlatul Ulama (NU), the country’s largest Muslim group.

Other candidates nominated by Islamic-based parties, Hidayat Nur Wahid-Didik J. Rachbini, managed only to finish third and therefore do not qualify for the runoff.

The result is not a new phenomenon in Indonesian politics. The pairing of Jusuf Kalla-Wiranto only got 12 percent of the vote in the 2009 presidential election although many key figures from the two biggest Muslim organizations, NU and Muhammadiyah, threw their weight behind them.

Many experts and politicians are convinced that religion plays a big role in politics. Some of them argue that the political system of democracy, having emerged in a particular culture, cannot be duplicated by other cultures.

Democracy is exclusively related to individualism and that is believed to be a unique feature of Western society. That is why democracy is incompatible with Muslim societies.

Islam is believed to be a self-sufficient religion that covers all aspects of Muslim life (Bernard Lewis: 2002).

For this reason Muslim societies, according to this argument, have great difficulties going beyond Islamic jurisdiction. Al-din (religion) and al-daulah (state) are two sides of one coin; there is no separation between them.
From this point of view, secularism, which is the idea of separating religion from the state, is alien to Muslims. Consequentially, a Muslim society, based on its religious teachings, will find it difficult to practice democracy.

There is not much support for this thesis in real political life, including in Islamic communities. It is true that Islamic-based political parties have won the first elections in some of the new democratic countries in the Middle East.

This might reinforce the argument that religion plays a pivotal role in politics, particularly in the Muslim context.

In fact, the parties change all the time. The Muslim Brotherhood (Ikhwanul Muslimin) in Egypt, for instance, is no longer a monolithic organization.

It has at least three factions, with the biggest one an accommodative faction that has produced the elected president, Mohammad Morsi (Carry Rosefski Wickham: 2011). In addition, it did not exploit ideological issues in its election campaign, but rather matters related to good governance.

The party has been a significant part of the democratic movement in the Egyptian transition of power. It won the election not because of its Islamic ideology, but due to its opposition to the dictatorial regime.

Many years before the Arab Spring, Olivier Roy predicted the failure of political Islam (1994). He identified two camps; Islamism and neo-fundamentalism.

The first refers to a political movement and the second relates to spiritual activities. The second group dominates the Muslim world and leads to the failure of any Islamic political interest.

Islam is not the only entity, but this is sometimes forgotten. Many people think that all Muslims follow Abdullah Azzam, a Palestinian jihadist who fought in Afghanistan, who called for a holy war against infidels.

Through his polemic essay titled Ilhaaq bi-Qafiilah (Joining the caravan) in 1987 he asked Muslims across the world to join the fight.

It is an oversimplification to think about Islam in only one way. There are so many groups and identities within Muslim communities (Greg Fealy and Sally White: 2008). In addition, these identities tend to be forgotten with many people thinking only about the ideological debates between Islamists and liberals (Anthoni Bubalo and Greg Fealy: 2005).

The most recent research on Indonesian political behavior found that religion has not had a crucial role in the three general elections of Indonesia’s reformation era (Saiful Mujani, R. William Liddle and Kuskrido Ambardi: 2012). Some Islamic-based political parties were established at the beginning to gain votes from the Muslim electorate, but they have put up a mediocre performance compared to the nationalist and secularist parties.

For example, the United Development Party (PPP) exploited its opposition to Ahmadiyah, a minority sect in Islam, and managed only to win 5.32 percent of the vote in the 2009 legislative election.

When religion, particularly in the Muslim context, has hardly played a major role in politics, it is difficult to understand why religious sentiment should be used to discredit a certain candidate in Jakarta’s gubernatorial election.

It means people who make use of such issues have not learned the lessons of Indonesia’s political experience.

Promoting religious sentiment can be suicidal for, if not actually backfiring on, the user. It would be better for them to promote secular issues, such as good governance, corruption eradication and bureaucratic reform.

The writer is the manager of the Liberal Islam Network and was awarded an Australian Development Scholarship (ADS).

Posted by: Saidiman Ahmad | June 1, 2012

Musik

Dimuat di Kompas, 12 Mei 2012

Tuts piano dimainkan. Suaranya mengalun dari balik pintu. Para serdadu penjaga panik. ”Ada suara?” ”Suara apa itu?” Mereka saling berpandangan. Mata nanar menatap pintu. Sebagian lainnya bergegas meraih senapan.

 ”Itu namanya musik!” kata David Thewlis yang duduk di se- buah kursi tak jauh dari pos serdadu. Terselip senyum di bibirnya. Para serdadu membuang napas lega. Pemimpin serdadu mengangguk-angguk. Yang tadi meraih senapan meletakkan kembali senjatanya.

David Thewlis sedang memerankan Michael Aris dalam film The Lady. Musik bagi para serda- du yang menahan Aung San Suu Kyi (Michelle Yeoh) itu adalah suara-suara asing. Bagi mereka yang dipenuhi prasangka, alunan musik patut dicurigai. Dan itu menunjukkan betapa tak berpendidikan para serdadu itu. Read More…

Posted by: Saidiman Ahmad | May 9, 2012

Jangan Takut!

Banyak sekali orang yang berpikiran maju, tapi mereka enggan angkat bicara. “Kita harus melangkah melampaui ketakutan itu, go beyond the fear,” kata Manji. Persoalannya bukan kenapa ketakutan itu muncul. Tapi bagaimana kita mampu melewati dan mengabaikannya.

Irshad Manji menolak berdiri di podium. Ia ingin bicara sambil duduk. Ia tidak mau acara itu menjadi acara pidato. Dia ingin berdiskusi dan bertukar gagasan. Setiap orang boleh mengemukakan pendapat, bertanya, atau berkomentar apapun.

Acara malam 4 Mei 2012 itu cukup meriah. 150 orang hadir. Mereka mendaftar. Dua hari sebelum acara, panitia sudah mengumumkan bahwa seluruh kursi sudah penuh. Mereka yang datang di hari H terpaksa masuk dalam daftar tunggu. Kebanyakan yang hadir malam itu adalah anak-anak muda. Read More…

Posted by: Saidiman Ahmad | April 23, 2012

Pasca-Islamisme PKS

Judul: Dilema PKS: Suara dan Syariah
Penulis: Burhanuddin Muhtadi
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2012
Tebal: xxviii + 307 halaman

Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PKS di Medan, 26-30 Maret 2012 mengusung tema “Bekerja dalam Kebhinekaan untuk Kejayaan Bangsa.” Tema kebhinekaan ini tidak mengejutkan. Pada 2008, PKS malah menyelenggarakan Mukernas di Bali dengan menampilkan logo hitam kuning mereka bersinar dari balik pura. Pada Pemilu 2004, partai ini menanggalkan slogan Islamisme dan menggantinya dengan “bersih dan peduli.” Terjadi pergeseran orientasi?

Olivier Roy, Asef Bayat, dan beberapa pengamat lain menyebut gejala ini sebagai pasca-Islamisme, di mana demokrasi mulai diterima. Gejala itu terjadi pada Partai Kebebasan dan Keadilan di Mesir, Partai an-Nahdla di Tunisia dan PJD (Parti de la Justice et du Développement) di Maroko. Juga terjadi pada AKP (Adalet ve Kalkınma Partisi)  di Turki. Read More…

Posted by: Saidiman Ahmad | January 9, 2012

Yang Terlarang Bersujud

Paul Klee, Angelus Novus

Kami masih menyusuri lorong-lorong kota. Di langit, matahari bersinar terang. Dua tiga orang di jalan. Menepi dan berpeluh. Kota Makassar seperti terbakar.

“Apa penjelasan mereka?” tiba-tiba supir taksi bersuara. Pertanyaan yang membuat saya, mungkin juga yang lain, tercengang. Read More…

Posted by: Saidiman Ahmad | January 6, 2012

Televisi dan Politik: Sebuah Catatan Kecil

Pablo Ruiz Picasso, Massacre in Korea

Pablo Ruiz Picasso, Massacre in Korea

Saat ini kita perlu hati-hati ketika menonton berita dan talkshow politik di televisi. Sebuah peristiwa besar di media belum tentu benar-benar besar dalam kenyataannya.

Ada dua hal yang selama ini disorot oleh media yang menurut saya agak janggal. Pertama soal kasus talangan pemeritah ke bank Century. Kasus ini sudah lama tapi sampai kini masih menjadi pembicaraan di televisi, terutama Metro-TV dan TV-One. Menjadi janggal bahwa penjelasan para ekonom dan pihak terkait tentang peristiwa itu sudah sedemikian terang-benderang bahwa kebijakan itu diambil untuk mengatasi krisis. Persoalannya bukan pada kebijakan, tapi pada aliran dana. Terkait aliran dana, BPK telah menelusuri aliran dana itu, ternyata tidak ada aliran atau transaksi yang melibatkan Sri Mulyani dan Boediono, dua orang yang dicaci maki selama ini karena dianggap bersalah. Yang aneh, baik politisi dan media yang berbulan-bulan mencaci-maki SMI dan Boediono, tak satupun mereka meminta maaf. Bahkan sampai kini terus menerus mencari celah menyalahkan mereka.

Kasus kedua adalah soal surat palsu Mahkamah Konstitusi. Dalam kasus ini media televisi selalu menyorot Andi Nurpati (mantan anggota KPU dan kini pengurus Demokrat). Kenapa yang disorot bukan Mahkamah Konstitusi, bukankah surat itu berasal dari sana? Andi Nurpati kan si penerima surat. Kenapa si penerima surat terus yang dipersalahkan, bukan si pembuat? Kalau tetap ingin mempersalahkan si penerima, mestinya ketua KPU dong. Bukankah surat itu ditujukan kepada lembaga KPU? Dan lagi, surat palsu itu tidak terkait dengan partai Demokrat, melainkan partai Gerindra dan Hanura.

Kedua kasus ini hanya contoh kecil bagaimana seharusnya kita kritis terhadap tontonan peristiwa dan talkshow politik di televisi. Saya tidak tahu pasti kenapa televisi-televisi itu begitu. Adakah kaitannya dengan fakta bahwa televisi-televisi itu dimiliki oleh penguasa partai-partai politik? Saya tidak tahu.

Terima kasih. Salam.

Posted by: Saidiman Ahmad | January 4, 2012

Apa Itu Kebebasan?

Tomato Plant

Pablo Ruiz Picasso: Tomato Plant

Pertanyaan tentang kebebasan patut diajukan. Bukan hanya karena masih cukup banyak persoalan terkait kebebasan belakangan ini, tapi karena stigma mengenai kebebasan masih besar. Kebebasan acapkali dipersepsi sebagai suatu kondisi di mana orang dihalalkan berbuat sekehendak hati. Kebebasan disamakan begitu saja dengan hukum rimba di mana yang kuat memangsa yang lemah. Kebebasan dipersepsi sama dengan keliaran.

Definisi semacam ini sebenarnya muncul dari kenggenan dan kemalasan berpikir dan membaca. Sungguh melimpah literatur yang mengulas mengenai kebebasan. Tak satupun literature itu mendefinisikan kebebasan sebagai keliaran. Tak satupun itu mendukung klaim kesimpangsiuran dalam sistem kebebasan.

Dua tokoh yang disebut sebagai peletak dasar filsafat kebebasan, Thomas Hobbes dan John Locke, justru menawarkan suatu kontrak sosial untuk menjaga kebebasan manusia. Pada Hobbes, masyarakat alamiah diandaikan penuh dengan keos. Semua diandaikan berperang melawan semua. Kontrak sosial diadakan agar perang semua melawan semua itu reda.

Pada John Locke masyarakat azali diandaikan berada pada kondisi damai dan aman. Kontrak sosial diadakan agar kondisi aman dan damai itu tetap terpelihara. Kontrak sosial dibuat untuk kebebasan manusia.

Pada titik inilah kebebasan didefinisikan. Kebebasan adalah suatu kondisi di mana orang bebas dari tindakan semena-mena orang lain. Oleh Isaiah Berlin, definisi ini disebut sebagai negative liberty (kebebasan negatif) atau freedom from (kebebasan dari). Kalau ada peristiwa di mana ada orang yang melakukan tindakan semena-mena kepada orang lain, maka itu bukanlah peristiwa dan kondisi kebebasan, melainkan ketidakbebasan, mungkin juga perbudakan.

Kebebasan untuk melakukan apa saja bukanlah kebebasan. Itu adalah penindasan. Isaiah Berlin menyebut kebebasan semu model kedua ini sebagai positive liberty (kebebasan positif) atau freedom to (kebebasan untuk).

Pemutarbalikan makna kebebasan membuat terma ini sering disalahpahami. Dan ini membawa implikasi yang cukup jauh. Kesalahan memahami kebebasan membuat tak sedikit orang yang menaruh curiga lalu mencoba membatasi kebebasan itu sendiri.[]

 

Artikel ini sebelumnya dimuat di www.islamlib.com

 

Posted by: Saidiman Ahmad | January 2, 2012

Kritik atas Demokrasi a la Yusuf Kalla

Sebelumnya dimuat di www.islamlib.com

“Demokrasi bukan tujuan bangsa kita tapi hanya alat untuk mencapai tujuan yaitu kesejahteraan,” demikian Yusuf Kalla. Penyataan itu ia kemukakan pada orasi bertajuk Reviving Democratic Government and Leadership in Global Governance di Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta, 14 Juli 2011. Pernyataan ini menuai kontroversi.

Bagi Kalla, demokrasi bukan tujuan, ia hanya alat. Pernyataan ini memiliki implikasi yang jauh. Kalau demokrasi hanya alat, maka jika tujuan tidak tercapai dengan alat ini, maka ia bisa diganti. Tujuan yang dimaksud adalah kesejahteraan. Read More…

Posted by: Saidiman Ahmad | December 19, 2011

Para Penghina Islam

Dimuat di www.islamlib.com, 10 Oktober 2011

Gerakan pembaruan adalah kerja kenabian. Para pembaru, begitu juga para nabi, selamanya mendapat tantangan dari masyarakat yang hendak diperbaruinya.

Di dunia Islam, para pembaru dicurigai membawa misi melawan Islam. Pembaruan dianggap sebagai pelemahan terhadap Islam. Mereka dilecehkan. Pelecehan terbesar yang diterima para pembaru Islam adalah bahwa mereka dianggap menghina Islam. Proyek-proyek pembaruan dianggap sama dengan penghinaan. Pikiran-pikiran progressif dianggap sama dengan penghinaan. Read More…

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 8,541 other followers

%d bloggers like this: