Puisi


ada aroma malaikat dari wangi tubuhmu
menjelang lelapku malam ini
semoga kuimpikan surga di ambang fajar

birahi malam mengendap dalam kelam hampa
bersama senja tak bersisa
dan igau yang berhenti di titik cakrawala merah…..

2003

dan pecahlah aceh pecahlah
leluhur mengutuk rimba raya
mayatmayat berteriak nyinyir
nyanyian neraka
nyanyian neraka
santapan hari ini anakanak
besok tuak ular rajawali
kirimkan aku bunga
tangan ini terikat kini
suaraku bisu
telah lama dzikir patah di udara

Ciputat, Juni 2003

hari ini esok dan lusa adalah penantian tak bertepi
seribu nyawa tereksklusi di loronglorong gelap
tak jua satu tumbuh dan menyapa
kepada hamba yang kurang airmatanya
suara langit suara bumi suarasuara sunyi
demikian susah mengeja detik
sementara waktu terus digilas ambang batas sejarah

dan gunung dan danau yang digambar ibu
semakin menjadi indah dan mati
(di atasnya ada purnama)
andai cinta tak ditancapkan aphrodite di dada paris
barangkali helen tak mampu mencipta perang troya
sebab cinta adalah perang adalah air mata

berapa banyak puisi yang akan terukir di dinding ratapan
sedang tongkat musa telah lama menjadi naga
(tak sanggup lagi membelah lautan)?
atau kuminta saja rumi meniup seruling
dengan nada bocah kehilangan induk?

hamba menangis, benarbenar menangis

Ciputat, 12 Desember 2002

masih kau ingatkah rencong patah
yang kau letakkan di tanah ini
jejaknya telah pergi jauh
mengalir seperti air mata
hari ini aku mengajakmu menggoreng tubuh anak-anak
besok kita sembahyang bersama

tak kau dengarkah airkah air mataku
seperti apakah hati
hingga kau bersidikap saja
samadi ilalang telah pula gosong
dan mata air mencapai matahari

masih kau ingatkah nisan kayu
yang kau tancapkan di tanah ini
jejaknya telah pergi jauh
menyisakan liang-liang lahat
hentikan tahiyat terakhir
sebelum serpihan nyawa
mengumpulkan kembali ceceran tubuh di bali

biarkan aku menulis puisi
dan darah yang mengalir
telah menyiksaku untuk tetap bangkit
berjalan dengan kaki telanjang
di atas tahi-tahi entah siapa

samuderaku samudera tujuh tuhan
menghempas seperti birahi
pada gundukan batu tua
yang sebentar kemudian leleh dan hilang

masih kau ingatkah darah
yang kau tanam di tanah ini
jejaknya telah pergi jauh
mengalir seperti melahirkan
dan kau berontak
berteriak kencang sekali
aaaaa………aaaaaa……..aaaaaa
tidak terdengar
sebab rupanya kesunyian lebih bising dari peluru

tunjukkan pemilik galau ini
di semua wajah tidak kutemukan ruang
untuk sekedar persinggahan hampa
pagipagi pagipagi telah pergi
cicit bocah burung mati sebelum berkicau
heningpun tak ada lagi

Ciputat, November 2002

Buat Indri
Ada yang tampak enggan
seolah semuanya adalah tubir
tak ada waktu sekedar berpaling
menunggu jatuh kepada bayang yang jauh

Ada yang tampak risau
seolah semuanya adalah tepi
yang kekal hanya masa lalu
dan hayal tak ada lagi

Ada yang tampak ragu
ketika janji menjadi kering
dan harapan tinggal ilusi

Pondok Indah, 25 April 2007

dari satu epik sejarah yang tidak pendek
apa yang masih mungkin diterima?
kerap hanya terpaku: sesekali menengadah angkasa
semacam ratapan yang menyumbat tenggorokan

telah terbaring di sini cita-cita masa depan
dari kepurbaan manusia

aku tak sanggup menitikkan air mata
si kerempeng menyatu dengan bumi
di atas mana jejak langkah manusianya benar-benar manusia

tidak, kau bukan dewa, kau bukan tuhan

revolusi harus dimulai, katamu
dan, jangan pernah bermimpi untuk berhenti
dalam setiap belenggu, bergeraklah
ikuti arah angin
rebut kebebasan yang tersisa
dengan segala daya yang sebentar lagi habis

ya, kamerad…..
jalan perang mungkin lebih baik daripada dinista

gadis pesisir jawa itu telah datang
memberimu sepucuk surat:

“telah kutitipkan rinduku di awan
yang kelak berpendar dan hilang
pulanglah menjelma di putih itu
sebelum semburat langit merubahnya jingga

birahi malam mengendap dalam kelam hampa
bersama senja yang tak bersisa
dan igau yang berhenti di titik cakrawala merah”
_________
Ciputat, 12 Juni 2006

selembar foto kau tinggalkan bersamaku
dan kau berlalu
seperti kemarin aku tiarap
menyusuri setiap jejak bekas tapakmu
kudapati suara bisu
wajahwajah tanpa bentuk

kau tinggalkan foto ini
dengan sebuah latar putih
tidak bergambar

ada aroma malaikat dari wangi tubuhmu
menjelang lelapku malam ini
semoga kuimpikan surga di ambang fajar

birahi malam mengendap dalam kelam hampa
bersama senja tak bersisa
dan igau yang berhenti di titik cakrawala merah…..

Ciputat, Januari 2004

Sebuah gong di puncak sebuah bukit menggelegarkan sebuah suara, ditabuh. Suara gong di sebuah bukit itu menyebar menembus udara, memekakkan telinga, memantul di dinding-dinding tebing, menyisakan gema, terdengar sampai jauh.

Akan kuceritakan kepadamu kisah sebuah gong yang kini ditabuh dan terdengar sampai jauh. Jauh sebelum ia ditabuh dan terdengar sampai jauh.

Ciputat, 2005

Telah tersampir rinduku di awan yang kelak berpendar dan hilang. Pulanglah menjelma di putih itu, sebelum semburat langit merubahnya jingga.

Dengan Sekuntum Mawar

selembar foto kau tinggalkan bersamaku
dan kau berlalu
seperti kemarin aku tiarap
menyusuri setiap jejak bekas tapakmu
kudapati suara bisu
wajahwajah tanpa bentuk

kau tinggalkan foto ini
dengan sebuah latar putih
tidak bergambar

Ciputat, 8 Desember 2002

kau yang laksana mawar
rekah malu merona
sekuntum kau jauh berpuluh duri
dan aku menyapamu dengan darah